Cari Di Blog Ini

Jumat, 16 Maret 2012

Islam dihujat : MILLATU IBRAHIM DI TANAH ARAB

II. ARABIA PRA ISLAMAjaran Ibrahim Adalah Agama yang Lurus dan Kepasrahan…
MILLATU IBRAHIM DITANAH ARAB
Oleh : Irene handono
menjawab buku Islamic Invation (robert morey)

Kehidupan Kesukuan
Kebanyakan penduduk Arab pada saat itu merupakan angota suku yang hidupnya mengembara, meskipun ada juga suku-suku yang hidupnya menetap di satu tempat atau kota kecil, seperti Makkah. Mereka menjalani kehidupan dengan mengandalkan unta dan ternak yang lainnya. Karena itu, kehidupan suku-suku ini ditentukan oleh kondisi geografis. Di banyak daerah hujan sangat jarang terjadi. Setelah musim penghujan di beberapa daerah akan muncul tumbuhan selama beberapa minggu dan ke daerah itulah suku-suku pengembara bergerak, tetapi ketika tumbuhan sudah kering mereka harus ke areal di mana terdapat sumur dan tampungan air. Setiap suku membutuhkan daerah yang lebih luas daripada yang bisa mereka pergunakan dalam satu waktu. Oleh karenanya, terdapat suatu pemahaman tentang adanya hak sebuah suku terhadap satu padang rumput, dan sebuah suku yang kuat akan tetap mempertahankan haknya dengan kekuasaan. Ketika sebuah suku sudah terlalu lemah untuk mempertahankan haknya, suku tersebut dapat menarik suku lain yang kuat untuk mendukung dan melindungi, hubungan ini merupakan sesuatu yang lazim.
Selama berabad-abad, suku Badui di kawasan Hijaz dan Nejed telah hidup dalam persaingan tajam satu sama lain demi memperebutkan kebutuhan-kebutuhan pokok. Untuk membantu masyarakat menanamkan semangat komunal yang esensial bagi pertahanan hidup, orang Arab telah mengembangkan sebuah ideologi yang disebut Muru’ah, suatu konsep etik yang banyak mengandung fungsi agama. Dalam pengertian konvensional, orang Arab hanya memiliki sedikit waktu bagi agama. Mereka mempunyai sekumpulan dewa-dewa pagan dan beribadat di tempat-tempat suci ini bagi kehidupan ruhani. Mereka tak memiliki pandangan tentang kehidupan sesudah mati, tetapi percaya bahwa dahr, yang dapat diterjemahkan sebagai “waktu” dan “nasib”, sangatlah penting -sebuah sikap yang barangkali esensial dalam masyarakat yang angka kematiannya begitu tinggi.
Muru’ah sering diterjemahkan sebagai “kejantanan”, namun kata itu memiliki cakupan pengertian yang jauh lebih luas: Muru’ah bisa berarti keberanian dalam peperangan, kesabaran dan ketabahan dalam penderitaan, dan kesetiaan mutlak kepada suku.11 Nilai-nilai muru’ah menuntut seorang Arab untuk mematuhi sayyid atau pemimpinnya setiap saat, tanpa peduli keselamatan dirinya sendiri: dia harus mendedikasikan diri kepada tugas-tugas mulia melawan semua kejahatan yang dilakukan terhadap suku dan melindungi anggota-anggotanya yang lemah. Untuk menjamin kelangsungan hidup suku, sayyid membagi kekayaan dan harta miliknya dan membalas kematian satu anggotanya dengan membunuh satu anggota suku si pelaku pembunuhan. Balas dendam atau utang nyawa balas nyawa merupakan satu-satunya cara untuk menjamin sedikit keamanan sosial di wilayah yang tak mengenal kekuasaan sentral ini, di mana setiap kelompok suku merupakan hukum bagi dirinya sendiri dan tak terdapat sesuatu yang bisa dipersamakan dengan angkatan kepolisian zaman sekarang. Jika seorang pemimpin suku gagal membalas dendam, sukunya akan kehilangan martabat sehingga suku-suku lain akan merasa bebas untuk membunuh anggota sukunya tanpa dihukum. Hukum balas, dengan demikian telah menjadi bentuk keadilan yang lazim. Ini berarti bahwa tak ada satu suku pun yang dengan gampang dapat memperoleh yang derajat lebih tinggi daripada yang lain. Ini juga berarti bahwa berbagai suku dapat dengan mudah terlibat dalam lingkaran kekerasan tanpa akhir, di mana satu penuntutan balas akan menimbulkan pembalasan yang lain jika orang-orang merasa bahwa balas dendam itu dilakukan secara tidak proporsional terhadap kesalahan asalnya.
Meskipun tak diragukan lagi kebrutalannya, muru’ah tetap memiliki banyak kelebihan. Muru’ah sangat menekankan egalitarianisme dan ketidakpedulian pada materi, yang, lagi-lagi, barangkali esensial dalam wilayah yang tidak memiliki persediaan kebutuhan pokok dalam jumlah yang memadai: kedermawanan merupakan kebajikan yang penting dan mengajarkan orang-orang Arab untuk tidak mengkhawatirkan hari esok. Sifat-sifat ini, sebagaimana akan kita saksikan, penting maknanya bagi Islam. Muru’ah telah berdampak baik bagi orang­orang Arab selama berabad-abad, namun sejak abad keenam konsep itu tak lagi mampu menjawab kondisi modernitas. Selama fase terakhir periode Pra Islam, yang oleh kaum Muslim disebut periode jahiliyah (masa kebodohan), ketidak puasan dan kekosongan spiritual telah menyebar luas. Orang Arab dikepung dari semua sisi modern mulai menembus masuk ke Arab dari wilayah-wilayah yang berpenghuni; para saudagar yang bepergian ke Suriah atau Irak membawa pulang kisah-kisah mengagumkan tentang kehebatan peradaban.
Namun, tampaknya mereka ditakdirkan untuk terus hidup dalam barbarisme. Peperangan antar suku yang tak henti­hentinya terjadi membuat mereka tak mampu mengumpulkan sumber daya mereka yang hanya sedikit itu dan menjadi orang Arab bersatu. Merek adapat menentukan nasib sendiri dan mendirikan sebuah peradaban sendiri. Sebaliknya mereka justru Senantiasa terbuka untuk dieklploitasi oleh kekuatan-kekuatan besar: buktinya, wilayah yang lebih subur dan canggih di Arab Selatan yang kini dekenal sebagai Yaman (yang memiliki keuntungan dari hujan muson) telah menjadi sekadar satu provinsi dalam wilayah kekuasaan Persia. Pada saat yang sama, ide-ide baru yang menembus kawasan itu memperkenalkan individualisme yang meruntuhkan etos komunal lama.
Kondisi keagamaan masyarakat (Jahiliyah)
Jazirah Arab selatan, Arabia Felix kuno, dikenal karena kekayaannya, namun ketika Rasulullah saw lahir (570) masa kegemilangannya tidak ada. Politeisme kuno secara luar digantikan oleh pengaruh-pengaruh agama Yahudi dan Kristen. Di Arab Tengah, agama yang lebih “primitif” masih tetap eksis, disertai dengan kebiasaan membanggakan kekuatan suku yang hebat. Gua-gua dan batu dianggap suci dan memiliki kekuatan yang diberkati, barakah. Hal ini adalah kebiasaan bangsa Semit. Sebuah pusat peribadatan batu adalah Mekkah, tempat Hajar Aswad (batu hitam) di sebelah tenggara Ka’bah yang merupakan tujuan tahunan dari Haji tahunan. Hubungan dagang dan pasar­pasar didirikan selama empat bulan suci, saat itu perang dan pembunuhan dilarang, serta anggota seluruh suku dan keturunan bangsa Arab melakukan perjalanan ke tempat suci. Bangsa Arab disituasikan dalam wilayah pengaruh Byzantium dan Persia, keduanya merupakan rekan dagang masyarakat Mekkah dan ini memfasilitasi kontak seluruh koloni Kristen mungkin tidak ditemukan dalam hati orang Arab. Demikian pula, terdapat wilayah Yahudi dekat Madinah, bahkan Raja Sheba berpindah ke agama Yahudi pada sekitar tahun 500.
Orang Yahudi dan Kristen, mitra dagang yang sering berhubungan dengan orang-orang Arab, acap mencela mereka sebagai orang-orang barbar yang tidak memperoleh wahyu dari Tuhan. Orang Arab merasakan campuran rasa benci dan hormat kepada orang-orang yang memiliki pengetahuan yang tak mereka punyai ini. Yudaisme dan Kristen tidak mendapat banyak kemajuan di kawasan itu, meskipun orang Arab mengakui bahwa bentuk agama yang progresif ini sebenarnya lebih unggul daripada paganisme tradisional mereka. Ada beberapa suku Yahudi yang tidak jelas asal-usulnya di pemukiman Yatsrib (kernudian menjadi Madinah) dan Fadak, hingga ke utara Makkah, serta beberapa suku utara di perbatasan antara imperium Persia dan Byzantium yang telah beralih menganut aliran Monofisit atau Kristen Nestorian. Akan tetapi, orang Badui sangat independen, mereka bertekad untuk tidak jatuh ke bawah salah satu kekuatan adidaya seperti saudara-saudara mereka di Yaman dan sangat menyadari bahwa baik orang Persia maupun Byzantium telah menggunakan agama Yahudi dan Kristen untuk mengembangkan pola-pola imperial mereka di kawasan itu. Mereka barangkali juga menyadari bahwa baik orang Persia maupun Byzantium telah menggunakan agama Yahudi dan Kristen untuk mengembangkan pola-pola imperial mereka di kawasan itu. Mereka barangkali juga menyadari secara naluri bahwa mereka telah mengalami dislokasi cultural yang cukup parah, seiring erosi tradisi-tradisi mereka sendiri. Mereka sama sekali tak merasa menginginkan sebuah ideologi baru, apalagi yang terungkap dalam bahasa dari tradisi asing.
Oleh karena itu, kehidupan menyembah berhala itu tetap subur di kalangan mereka, sehingga pengaruh demikian ini pun sampai kepada tetangga-tetangga mereka yang beragama Kristen di Najran dan agama Yahudi di Yathrib, yang pada mulanya memberikan kelonggaran kepada mereka, kemudian turut menerimanya. Hubungan mereka dengan orang Arab yang menyembah berhala untuk mendekatkan diri kepada Tuhan itu baik-baik saja.
Paganisme Arab
Cara-cara penyembahan berhala orang-orang Arab dahulu banyak sekali macamnya. Setiap kabilah atau suku mempunyai patung sendiri sebagai pusat penyembahan. Sesembahan­sesembahan zaman jahiliah ini pun berbeda-beda pula antara sebutan shanam (patung), wathan (berhala) dan nushub. Shanam ialah dalam bentuk manusia dibuat dari logam atau kayu. Wathan demikian juga dibuat dari batu, sedang nushub. adalah batu karang tanpa suatu bentuk tertentu. Beberapa
kabilah melakukan cara-cara ibadahnya sendiri-sendiri.
Ada tiga sesembahan Arab kuno yang secara khusus disenangi oleh orang-orang Arab Hijaz, yaitu Al-Lat (yang secara sederhana berarti “Dewi”) dan Al-Uzza (Yang Perkasa), masing. masing memiliki kuil suci di Thaif dan Nakhlah, sebelah tenggara Makkah, dan Manat (Sang Penentu), yang kuil sucinya bertempat di Qudaid, di pesisir Laut Merah. Mereka sering disebut banat Allah, yang arti harfiahnya Anak Perempuan Allah, tetapi tidak merupakan sesembahan yang telah berkembang sepenuhnya, Orang Arab menggunakan istilah kekeluargaan seperti itu untuk menyatakan suatu hubungan yang abstrak: dengan demikian, banatal-dahr (harfiahnya “putri-putri nasib”) sekedar bermakna ketidak beruntungan atau pasang surut kehidupan. Istilah banat Allah mungkin sekedar merujuk kepada “wujud-wujud suci”, Sesembahan ini tidak diwakili oleh patung yang realistic di dalam kuil-kuil, tetapi oleh batu-batu besar yang berdiri tegak, seperti yang terdapat di kalangan orang Kanaan kuno. Batu itu tidak disembah oleh orang-orang Arab secara langsung, tetapi hanya menjadi sebuah focus keilahian. Seperti Makkah dengan Ka’bahnya, kuil-kuil di Thaif, Nakhlah, dan Qudaid telah menjadi lambing spiritual yang penting di dalam hati orang-orang Arab.
Mereka beranggapan batu karang itu berasal dari langit meskipun agaknya itu adalah batu kawah atau yang serupa itu. Tidak cukup dengan berhala-berhala besar itu saja buat orang­orang Arab guna menyampaikan penyembahan mereka dan memberikan korban-korban, tetapi kebanyakan mereka itu mempunyai pula patung-patung dan berhala-berhala dalam rumah masing-masing. Mereka mengelilingi patungnya itu ketika akan keluar atau sesudah kembali pulang, dan dibawanya pula dalam perjalan bila patung itu mengizinkan ia bepergian. Namun ketika mereka menyembah patung-patung berhala itu, maka tidaklah serta merta dikatakan bahwa mereka tidak meyakini adanya tuhan, semua patung itu, baik yang ada dalam Ka’bah atau yang ada disekelilingnya, begitu juga yang ada di semua penjuru negeri Arab atau kabilah-kabilah dianggap sebagal perantara antara penganutnya dengan Allah. Sebagaimana disebutkan Allah dalam Al-Quran surat Az Zumar : 3: “Tidaklah kaml menyembah mereka melainkan untuk mendekatkan diri kepada Allah.”
Kepercayaan mereka tidak sebatas pada pengakuan adanya Tuhan saja. Orang Arab juga percaya bahwa Allah adalah Tuhan yang menciptakan alam semesta. Hal ini juga tergambar dari pemberitaan Allah dalam Al-Quran surah Luqman ayat 25: “Jika engkau tanyakan kepada mereka siapa yang menciptakan langit dan bumi, niscaya mereka menjawab: Allah”. Tetapi menurut pandangan Islam kondisi seperti ini mereka masih dikatakan kafir dan musyrik. Sebab, mereka tidak menuhankan Allah SWT dalam ubudiah. Mereka tidak tunduk kepada aturan yang ditetapkan oleh Allah. Mereka membuat cara, ajaran, dan nilai sendiri dalam mendekatkan dirinya kepada Allah dengan cara membuat tuhan-tuhan dari kayu dan batu untuk menjadi perantara mereka dengan Allah. Mereka lebih patuh kepada peraturan yang mereka buat sendiri untuk menggantikan hukum yang telah diturunkan Allah. Tauhid inilah (tauhid uluhiyyah) Yang membedakan antara seorang Islam dan orang yang kafir / musyrik.
Ahnaf pengikut Ibrahim
Setelah ekonomi pasar mulai terbangun, pandangan orang Arab mulai berubah. Banyak yang masih puas dengan aliran kuno memuja berhala, tetapi berkembang kecenderungan untuk menyembah satu Tuhan ; dan kekhawatiran makin meningkat terhadap ketidakadilan peradaban baru yang berkembang di Mekkah. Sebagian orang Arab mulai mencari kebenaran, yang tidak puas dengan agama dominan bangsa Arab, yang berada dalam wilayah keyakinan yang lebih tinggi. Orang-orang ini disebut hanif, dan tampaknya percaya pada Tuhan Yang Maha Tinggi. Ini adalah upaya untuk menemukan bentuk monoteisme Yang lebih netral dan tidak ternoda kaitan imperialistik. Sejarahwan Kristen Palestina, Sozomenos, mengemukakan kepada kita bahwa pada awal abad kelima beberapa orang Arab di Suriah telah menemukan kembali apa yang mereka sebut agama asli Ibrahim, yang berkembang sebelum Tuhan menurunkan Taurat atau Injil dan, dengan demikian, bukan Yahudi atau Kristen. Tidak lama sebelum Rasulullah menerima panggilan kenabiannya sendiri, penulis biografinya yang pertama, Muhammad ibn Ishaq (w. 767), menjelaskan kepada kita bahwa empat orang tokoh Quraisy Makkah memutuskan untuk mencari hanifiyyah, agama asli Ibrahim. Sebagian sarjana Barat telah menyatakan bahwa sekte hanifiyyah yang kecil ini adalah sebuah fiksi agama yang menyimbolkan kegelisahan spiritual zaman jahiliah, tetapi pasti memiliki dasar pijakan yang faktual. Tiga di antara keempat hanif itu cukup dikenal oleh generasi pertama muslim: Ubaidillah ibn Jahsy, keponakan Rasulullah; Waraqah bin Naufal, yang akhirnya beragama Kristen; dan Zaid ibn Amr, paman Umar bin Khattab, salah seorang sahabat dekat Rasulullah dan khalifah kedua dalam pemerintahan Islam. ada sebuah kisah bahwa pada suatu hari, sebelum meninggalkan Makkah menuju Suriah dan Irak untuk mencari agama Ibrahim, Zaid berdiri di sisi Ka’bah, bersandar ke bangunan suci itu clan berkata kepada orang Quraisy yang sedang melakukan ritus mengelilinginya dalam cara yang sudah dilakukan sejak lama: “Wahai Quraisy, demi yang jiwa Zaid berada di tangannya, tak ada seorangpun dari kalian yang mengikuti agama Ibrahim kecuali aku.” Kemudian dengan sedih dia menambahkan, “Ya Tuhan, andaikan aku tahu bagaimana engkau ingin disembah, niscaya aku akan menyembahmu dengan cara itu; namun aku tidak tahu.”12
Kerinduan Zaid terhadap wahyu ilahi akhirnya terpenuhi di Gua Hira pada tahun 610 di malam ketujuh belas bulan Ramadhan, dengan kenabian Muhammad.
NOTES
11 . Karen Amstrong, Sejarah Tuhan, Op. cit., hal 192
12. Muhammad Ibn Ishaq, Sirah, 145 dikutip dari A. Guillame, terj., The Life of Muhammad, dalam Karen Amstrong, hal 192

Tidak ada komentar: