Cari Di Blog Ini

Jumat, 16 Maret 2012

Islam dihujat : ALLAH, TUHANKU DAN TUHANMU

III. ALLAHJangan berkata tentang Allah
Kecuali yang Haq…
ALLAH, TUHANKU DAN TUHANMU
Oleh : Irene handono
menjawab buku islamic Invation (robert morey)
Setelah menyatakan bahwa umat Muslim menyembah dewa bulan, Dr. Robert Morey berusaha memisahkan antara komunitas Islam dan Kristen dengan pernyataan bahwa Tuhan yang disembah oleh umat Islam tidaklah sama dengan Tuhan yang disembah oleh umat Kristiani. Selain alasan dewa bulan beberapa alasan lain di antaranya:
  • Pandangan Bible tidak sama dengan pandangan Al-Qur’an. Dan untuk memutuskannya -seperti kata Dr. Robert Morey­ harus ada kajian secara adil dari kedua belah pihak terhadap teks kedua kitab suci dan dokumen lain yang berkenaan dengan hal tersebut.
  • Kata Allah tidak ada dalam Bible.
  • Perbandingan antara pandangan kedua kitab terhadap Allah. Seperti masalah-masalah :
1. Sifat Tuhan,
2. apakah Tuhan dapat dikenal,
3. apakah berbentuk pribadi,
4. apakah berbentuk Roh,
5. apakah diimani dengan doktrin unitas atau trinitas,
6. apakah Tuhan terbatas,
7. apakah Terpercaya,
8.tentang kasih Tuhan,
9. keaktifan dalam sejarah,
10. tentang juru selamat.
Kajian terhadap dua Kitab Suci.
Seperti yang kami sebutkan tadi, dalam upaya membandingkan antara Tuhan umat Muslim dan Kristen, Dr. Robert Morey menghendaki adanya pengkajian atas kedua buah kitab suci secara adil oleh kedua belah pihak sehingga bisa di dapatkan hasil yang memuaskan. Keinginan Dr. Robert Morey ini, jika tertulis sejak awal penulisannya pada tahun 1946 dengan judul Islam Unveiled yang kemudian pada tahun 1992 diperbaharui dengan judul The Islamic Invasion, maka sebetulnya keinginan tersebut sudah terwujud. Sebanyak 75 sarjana Bibel dari perguruan tinggi terkemuka di Amerika dan Eropa telah berupaya -seperti yang diinginkan Dr. Robert Morey­ untuk meneliti Bibel selama 6 tahun. Dan hasilnya, sebanyak 82 % dari ayat-ayat Bibel adalah bukan perkataan Yesus, sedang sisanya yang 18% dianggap asli. Hal yang sama telah dilakukan oleh kalangan Muslim sejak berabad-abad yang lalu, dalam upaya pembersihan ajaran yang teracuni cerita-cerita Israihyat dari Yahudi dan Kristen.
Sesuai ketentuan Dr. Robert Morey, mestinya dalam pembaruan tulisannya pada tahun 1992 -apalagi yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia baru-baru ini-, kajian
tentang pandangan Bible terhadap Tuhan harusnya didasarkan pada hasil kajian para sarjana Bibel yang telah berupaya selama 6 th. Namun sayang upaya mereka ditinggal begitu saja, malah sebagian otoritas gereja menolak hasil kajian mereka.
Kata “ALLAH” dalam Bible
Untuk memperkuat hujatan tentang dewa bulan Dr. Robert Morey berusaha menafikan pemakain kata “Allah” dikalangan Kristen khususnya dalam Bible, dengan mengatakan
“Padahal Alkitab sudah selesai ditulis jauh-jauh hari sebelum Muhammad lahir, jadi bagaimana mungkin Alkitab berbicara tentang Allah dari Muhammad. Dalam kenyataannya, sebutan nama Allahpun tidak pernah keluar dari bibir para pen ulis Alkitab. Sampai jaman Muhammad, Allah adalah nama salah satu dari dewa-dewa berhala, namo Allah dikenal secara khusus sebagai nama dewa bulan yang menjadi sesembahan orang Arab pada jaman itu. 5
Pernyataan Dr. Robert Morey di atas mungkin agak janggal jika dilihat dalam konteks umat Kristen Indonesia yang sejak dulu memakai kata “Allah” bahkan dalam Injil berbahasa Indonesia, juga dalam buku-buku yang mereka tulis. Bible yang ditempatkan oleh Gedeon tahun 1976, memakai kata “Allah” seperti yang kita kutip sebelumnya tentang hukum yang terutama yaitu: “…hai Israel, adapun Allah Tuhan kita, Ialah Tuhan yang Esa. “ (Markus; 12: 29). Bible edisi milenium yang diterbitkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia (th. 2000), terbitan tahun 1958 malah menggunakan kata “Hua” (kata ganti orang ketiga dalam bahasa Arab) juga memakai kata Allah dalam Ulangan 6:4 :Sesungguhnya Hua Allah kita, Hua itu Esa adanya “. Jika Bible edisi Arab yang juga memakai kata “Allah” dikatakan oleh Dr. Robert Morey ditulis abad 9 dan kata tersebut terpaksa dipakai karena takut ancaman penguasa muslim, bagaimana dengan yang di Indonesia? Kalau dikatakan karena kondisi yang sama, bagaimana dengan umat Hindu clan Budha yang tidak pernah memakai kata “Allah” hingga saat ini, toh mereka tenang ­tenang saja tidak takut mendapat ancaman dari mayoritas muslim Indonesia. Alasan “takut ancaman”, hanyalah rekaan Yang tidak berdasar sebab masyarakat Kristen Arab pada masa kejayaan Islam mendapat perlindungan yang bahkan beberapa dari mereka menjadi wazir (menteri) pada masa daulah Abasiyah. Di Indonesia sendiri tidak pernah ada upaya pemurtadan oleh umat Muslim terhadap umat Kristen, apalagi ancaman dan pemaksaan agar memakai kata “Allah”, yang terjadi justru sebaliknya agama Kristen dipaksakan oleh penjajah dan pemurtadan umat Islam dilanjutkan oleh otoritas Kristen hingga saat ini, dengan berbagai macam cara.
Dengan mengatakan bahwa dewa bulan yang dipanggil dengan nama `Allah” adalah sesembahan umat Muslim -seperti kutipan di atas-, sebenarnya Dr. Robert Morey telah menyakiti umat Kristiani. Sebab salah satu alasan dari hujatannya adalah bahwa bahasa Semit sebelum Islam (termasuk Ibrani dan Aram bukan hanya Arab) adalah tempat penyebaran penyembahan dewa bulan atau dewi yang bernama “allah” -alasan yang tidak berdasar-. Bila seseorang menyatakan bahwa ia menemukan bukti bahwa dewa bulan yang bernama “allah” di Palestina, Siria, atau Libanon, pernyataan ini juga menunjuk dewa yang dihormati oleh umat Kristen sendiri. Toh kata “Tuhan” yang pertama muncul di Bibel, pada Kitab Kejadian 1:1, menyatakan:
B’reshit bara ELOHIM et ha-shama’im, V’et ha-arets.
In the beginning, God created the heavens and the earth.
Ketika umat Kristen mengatakan bahwa kata “Elohim” adalah bahasa Ibrani asli, akan mengakui bahwa bahwa kata kuno untuk Tuhan mempunyai cerita yang hilang kepada kita. Bagaimanapun bila seseorang menemukan kata eloh (alef­lamed-heh) di beberapa prasasti yang tertulis dalam Ibrani-Paleo, Aram, atau tulisan pendek dari Nabatean, akan terbaca dalam beberapa cara tanpa tanda baca bagi para pembaca. Huruf campuran ini (yang bisa dibaca alah) adalah akar dari kata “to swear (bersumpah)” atau “to take an oath (untuk mengambil sumpah),” sebagaimana kata “to deify” atau “to worship” (menyembah), seperti berikut ini:
Akar kata itu sendiri adalah ash dengan akar kata yang lama, el, yang berarti God (Tuhan), dewa, kemampuan, kekuatan, dll.
Satu dari dasar kata Ibrani untuk Tuhan, (eloh), dapat dengan mudah dibaca alah tanpa tanda baca. Tidak mengejutkan bahwa kata Arab untuk Tuhan adalah allah. Kata ini, adalah tulisan standar ( ) atau tulisan Estrangela ( ), yang dieja alap-lamad-heh (ALH), yang mana berhubungan langsung dengan kata Ibrani eloh. Bahasa Aramaic berhubungan dekat dengan akar kata lama untuk Tuhan, eel.6
Kata Arab untuk Tuhan, adalah Allah ( ), ini dibaca dengan cara yang sama, dan berhubungan secara terpisah dengan sebagian besar kata umum untuk dewa, (ilah). Sangat penting untuk dicatat bahwa tatabahasa yang jelas dan hubungan etimologi antara kata penghormatan untuk Tuhan dalam hal ini berhubungan sangat dekat di dalam bahasa Semit (contoh, Allah, Alah dan Eloh berhubungan dengan Ilah, Eel, dan El, untuk penghormatan). Jadi, dapat disimpulkan bahwa, jika satu kesatuan bahasa tiga agama tauhid ingin menyatakan bahwa Allah/alah adalah nama dari suku dewa bulan, dan penyembahan dewa tersebut adalah praktek pagan, maka harusnya umat Kristen membuang Bibel di tempat sampah karena dewa ini juga ada dalam teks Bibel. Mereka juga harus mengingkari Yesus karena memanggil dewa ini pada saat di tiang Salib.
Dicantumkan bahwa Ezra dan Nabi Daniel memanggil Tuhan mereka dengan “Elah”. Hal ini lebih dari cukup untuk menolak anggapan yang salah dari umat Kristen -Dr. Robe, Morey-, bahwa Allah adalah dewa bulan. Jika Allah adalah dewa bulan, maka apa yang telah disembah oleh Ezra dan Nabi Daniel?
Eloh, Elohim, dan Yahweh.
Ketika umat Islam menentang Missionaris Kristen dengan bukti etimologi bahwa kata Allah adalah benar-benar berhubungan dengan kata Elohim, para misionaris kemudian menunjuk bahwa (yahweh) adalah “nama sakral” untuk Tuhan yang mereka sembah dan bahwa sejak itu umat Islam tidak menela’ah tentang “nama sakral” Tuhan, karena itulah – menurut mereka- umat Islam salah dalam memanggil nama Tuhan. Ini bukanlah argumentasi yang baru dari missionaris. Ketika Nabi Muhammad di Madinah, umat Yahudi Madinah melemparkan tuduhan yang sama, dengan mengatakan bahwa umat Islam tidak merujuk kepada Tuhan dengan hanya menyebut Dia sebagai ‘Allah”. Karena itulah kemudian turun ayat al-Quran untuk menepis tuduhan tersebut :

“Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mernpunyal al-asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) … “(al-Isra’, 17:110).
Berdasarkan pengamatan kita juga mempunyai catatan tentang tuduhan bahwa :
  1. Yang pertama dari semuanya, yang paling pertama di Kitab Kejadian 1 :1 adalah “Elohim”, bukan “Yahweh”. Kata ( ) (YHWH) mulai muncul pada Kitab Kejadia sejak saat itu selalu memakai kata “Elohim”.
  2. Menurut James Strong pada The New Storng’s Exhausive Concordance of the Bible, kata Yahweh adalah “Nama nasional Tuhan umat Yahudi”7. Pendek kata, bahwa nama ini -katanya- hanyalah umat Yahudi yang memakai. Kita bandingkan pada rujukan yang sama, untuk kata Elohim adalah ” .. . khusus dipakai untuk Tuhan yang maha tinggi”.8
  3. Point yang terakhir adalah berdasarkan kepercayaan umat Kristiani sendiri, nama Yahwe hanya dipakai untuk kontek kitab perjanjian lama, dan tidak untuk umat Kristiani yang hanya percaya pada kitab perjanjian baru.
Pada sisi yang lain, kalau kita merujuk pada Markus 15:34 dimana Yesus dikatakan menangis dalam bahasa Aramaic:
ELOI, ELOI, LAMA SABACHTHANI?
Yang artinya :
Ya TuhanKu, Ya Tuhan Ku, Apakah sebabnya Engkau Meninggalkan Aku ?
Kalaulah pengakuan bahwa Yahweh adalah panggilan yang benar dari nama Tuhan, kenapa pada saat Yesus memanggil :
ELOI, ELOI, LAMA SABACHTHANI?
Yesus tidak menangis dan memanggil
YAHWEH, YAHWEH, LAMA SABACHTHANI ? ”
Hal ini menunjukkan, pengakuan bahwa Yahweh adalah nama yang paling benar” untuk Tuhan adalah tidak berdasar. Yesus merujuk kepada Tuhan sebagai “ELOI” atau “ELI” (berdasarkan Matius 27:46). Jika benar tuduhan Dr. Robert Morey maka kita harus percaya bahwa Yesus mengabaikan “nama Yang benar” untuk Tuhan ketika dia memanggil-Nya sebagai “ELI” -Yang mana akar katanya berhubungan dengan akar kata bahasa Arab ALLAH- untuk Yahweh, dan umatKristen yang setuju dengan Dr. Robert Morey telah “mengabaikan” tentang apa nama Yang benar” untuk Tuhan!.
Kata-kata yang diakui oleh Dr. Robert More berdasarkan Peranjian lama adalah Yahweh dan Elohim. Mungkin dia termasuk yang menerima hukum Taurat, walaupun sebagian lain umat Kristen tidak mengakui hukum Taurat berdasarkan ajaran Paulus. Namun demikian dua kata di atas sebenarnya bukan kata yang asing dalam tradisi Islam. Kata Yahweh yang berbahasa Ibrani masih dekat dengan bahasa Arab “Yaa Huwa” di mana tradisi sufi sering menggunakan kata ganti orang ketiga untuk menyebut Allah, mereka bahkan hanya menyebut “Huwa” atau “Hu” dalam dzikir mereka. Kata yang kedua “Elohim” -yang juga berbahasa Ibrani- sama seperti sebelumnya dekat dengan bahasa Arab “Allahumma” yang sering dipakai umat Muslim dalam do’a. do’a mereka.
Kedekatan pemakaian kata-kata ini, setidaknya menunjukkan kesinambungan ajaran Tauhid yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim melalui dua putranya Isma’il dan Ishaq. Penyebutan Yahweh dan Elohim oleh bangsa Yahudi keturunan Ishaq; dikarenakan mereka berbicara dengan bahasa Ibrani yang ketika sampai pada masa Nabi Isa mereka mulai memakai bahasa Aramaik. Adapun keturunan Nabi Ismail yang memang tinggal di Jazirah Arab tentu saja memakai bahasa Arab dan menyebut Elohim dengan Allahumma, Eloh/Eloi dengan Allah. Perubahan kata/nama ketika dipakai bahasa lain adalah hal yang seringkali terjadi, kata ‘alim menjadi “ngalim” ketika disebut orang jawa, nama Muhammad menjadi Mamado jika orang Afrika yang menyebut. Hal ini sangat mungkin terjadi akibat perbedaan logat dan dialek. Adapun “God’ atau “Lord” tentu saja bukan dikarenakan logat tapi penerjemahan, sebagai mana orang Indonesia menyebut “Tuhan” untuk yang mereka sembah. Dalam kontek bahasa Semit kata yang paling jauh justru “God” atau “Lord”, karena memakai bahasa Engris-Eropa sementara pentas pewahyuan Taurat dan Injil berada di wilayah Palestina-Arab Secara bahasa, Taurat (Ibrani) dan Injil (Ibrani-Aramaik) adalah serumpun dengan bahasa Arab. Bahasa Arab tentu saja lebih dekat kepada saudara serumpunnya jika dibandingkan dengan bahasa Yunani atau Romawi dan bahasa-bahasa Eropa.
Tuhan dapat dikenal
Bahasan-bahasan berikut ini adalah jawaban atas upaya- upaya pembandingan Tuhan menurut Kristen dan Allah menurut Islam, serta masalah keimanan kedua umat.
Menurut Dr. Robert Morey, “Tuhan dapat dikenal. Yesus Kristus datang kedunia ini agar kita boleh mengenal Tuhan (Yohanes 17:3). Namun dalam Islam Allah tidak dapat dikenal. Allah begitu tinggi dan mulia, sehingga tidak ada seorangpun yang pernah secara pribadi mengenalNya”.9
Yohanes 17: 3 yang dimaksud oleh Dr. Robert Morey berbunyi seperti berikut: “Inilah hidup yang kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.10 Berdasarkan ayat ini maka berarti umat Kristen mengenal Tuhannya melalui seorang utusan yaitu Yesus. “Melalui utusan” seharusnya diartikan “melalui apa yang diajarkan” oleh seorang utusan, bukan mengenal sang utusan sebagai Tuhan.
Mengenal Tuhan dengan pandangan sebagai pribadi, lebih mendekati pikiran primitif yang pernah dikenal oleh masyarakat Mesir Kuno -salah satunya-. Kepercayaan terhadap Re (dewa matahari), yang sebetulnya adalah matahari itu sendiri, bertahan dari dinasti ke II (± 3000 SM) raja-raja Mesir Kuno hingga dinasti Khofo (1400 SM). Hal ini dikuatkan dengan ditemukannya tulisan di makam salah satu raja dinasti II, yang menyebut dewa matahari dengan sebutan “Nabire”11. Pada abad 14 SM, raja­raja mesir mulai mengembangkan pandangan pantheisme demi melanggengkan kekuasaannya. Kepercayaan masyarakat Mesir kuno yang sebelumnya tertuju kepada Matahari akhirnya beralih kepada Raja-raja itu sendiri sebagai perwujudan dewa Re di muka bumi.
Dr. Robert Morey yang mengenal Tuhannya dalam pandangan wujud seorang manusia, seharusnya menyadari bahwa wujud manusia yang berbentuk materi -ketika masa kehidupan Yesus- sekarang sudah tidak ada lagi. Tapi Allah yang tidak pernah akan mati masih ada dan bisa dikenali. Pandangan untuk mengenal Tuhan dalam perwujudan seorang manusia adalah pandangan primitif ketika manusia tidak mampu menalar keberadaan Tuhan yang tidak bisa diindera, hal ini menjadi pandangan umum umat manusia pada masa sebelum Islam, apalagi pada masa Fir’aun yang menuhankan dirinya. Tapi pada masa modern seperti saat ini pandangan wujud Tuhan dalam bentuk manusia adalah aneh, terhadap seorang pemimpin negara saja penghormatannya tidak seperti dulu yang seakan menyembah. Manusia modern lebih bisa menalar bahwa manusia sangatlah terbatas, maka tidak mungkin menjadi Tuhan. Pandangan perwujudan Tuhan dalam bentuk pribadi manusia hanyalah sekedar ‘kepercayaan’ yang sangat susah dihilangkan karena tertanam sejak kanak-kanak, tapi secara logika amat sulit untuk dijelaskan, maka tidak mengherankan jika penjelasannya seringkali menggunakan analogi.
Selain pandangan bahwa tuhan dalam wujud pribadi, ada pandangan lain -seperti yang diungkapkan oleh Dr. Robert Morey-, yaitu pandangan bahwa tuhan itu berwujud roh. Pandangan ini pada dasarnya hanya untuk memasukkan roh kudus ke dalam jajaran trinitas. Sebab jika pandangan itu terlepas dari kepentingan tersebut, maka akan lebih parah lagi, sebab kepercayaan kepada roh sebagai yang dipertuhankan adalah pandangan yang paling primitif dalam sejarah kepercayaan umat manusia. Paham inilah yang memunculkan paham totemisme, yaitu kepercayaan terhadap roh-roh yang berada pada beberapa macam binatang atau benda yang kemudian divisualisasikan dalam bentuk totem, atau patung dan berhala.12
Kelemahan akal manusia sering kali membuat mereka memvisualisasikan hal-hal yang tidak dapat mereka indra. Kepercayaan terhadap wujud yang tak terindra agak sulit mereka terima, karena sarana yang dipakai hanya akal saja. Itulah sebabnya manusia perlu bimbingan lain untuk menggunakan akalnya, yaitu melalui Rasul dan kitabnya. Bibel sendiri mengajarkan bahwa wujud Allah tidak bisa disamakan dengan yang lainnya.
Dengan siapa hendak kamu samakan Aku, seakan-akan Aku seperti dia? firman Yang Mahakudus. (Yesaya 40: 25).
Ajaran ini pada dasarnya sama dengan ajaran al-Qur’an.yang menyebutkan :
Tidak ada satupun yang menyerupaiNya. (as Syura: 11)
Jika memang tidak ada satupun yang menyerupaiNya, maka bagaimana cara mengenalnya? Dalam ajaran Islam banyak sekali cara-cara yang diajarkan untuk mengenal Allah menurut kemampuan masing-masing orang. Mereka yang hanya mampu mengenal melalui logika akal, dapat membuktikan keberadaan Allah melalui perenungan terhadap ayat-ayatNya baik yang tertulis (al-Qur’an) maupun yang tidak tertulis (alam semesta). Sedangkan mereka yang mampu menambahkan kemampuan batin selain logika akal, maka dapat mengenal Tuhannya dengan mata hati, seperti yang dicapai oleh para sufi. Indera manusia yang berwujud materi tidak akan mampu mengindera dzat Allah yang maha Agung, Nabi Musa saja ketika ingin melihat Allah tidak mampu hingga pingsan dan gunung di dekatnya hancur apalagi manusia modern yang sudah banyak lalai terhadap Tuhannya. Penjelasan masalah ini kami cukupkan sebatas jawaban, untuk penjelasan tatacaranya lebih baik merujuk pada karya-karya para Sufi yang sudah berhasil mengenal Allah dengan sarana akal dan kalbunya.
NOTES
5. Robert Morey, The Islarnic Invasion – confronting the World’s Fastest Growing Relegion, Scholars Press, Las Vegas, 1991, hal. 70.
6. Lihat Mohd Elfi Nieshaem Juferi, www.bismikallahumma.org
7. Lihat Concordance no. 3608 atau Elfie Nieshaem Juferi, www.bismikallahumma.org.
8. Ibid, no. 430
9. Robert Morey, Op. cit., hal. 63.
10. Alkitab Edisi Milenium, Lembaga Alkitab Indonesia, th. 2003, hal. 143
11. Mu’jam al-Hadlarah al-Mashriyah al-Qadimah (Ensiklopedi Peradaban Mesir Kuno), hal. 170.
12 Abas Mahmud al-Aqad, Allah, Al-Haiah al-Mashriyah al-`Amah lilkitab, Kairo, 1998, hal. 15.

Tidak ada komentar: