Cari Di Blog Ini

Jumat, 16 Maret 2012

Islam dihujat : DUNIAWI DAN ROHANI

IV. SYARI’AT ISLAMKalian tiada berarti sebelum
menjalankan Taurat dan Injil
DUNIAWI DAN ROHANI
oleh :Irene handono

Pada dasarnya manusia memiliki perjanjian dengan penciptanya di alam praeksistensi -seperti yang telah kita bahas dalam bab tauhid-, setelah dilahirkan penjagaan fitrah manusia tersebut kadang terdistorsi oleh lingkungan yang membuatnya lupa akan Penciptanya. Oleh sebab itu Rasul pembawa risalah memiliki kewajiban untuk mengembalikan manusia kepada fitrahnya. Kewajiban pertama adalah mengajarkan tauhid, dan kedua yaitu memperbaiki keadaan umat agar tidak lalai; dalam hubungan vertikal antara manusia dan Penciptanya diajarkan dalam bentuk ibadah vertikal (ibadah mahdlah), dan perbaikan secara horizontal antar manusia secara individu maupun kelompok melalui ibadah horizontal (mu’amalah bi husnil khuluq) .
Ibadah vertikal
Kesaksian manusia pada masa praeksistensi, tetap dituntut pada masa eksistensi, yaitu pentauhidan Allah, yang dalam ajaran Islam dikenal dengan istilah syahadah (kesaksian). Syahadah adalah modal awal bagi manusia untuk bisa mengenal Penciptanya, untuk kemudian diperkuat dengan Ibadah vertikal atau horizontal. Allah tidak membutuhkan ibadah manusia, justru sebaliknya manusia sangat membutuhkan ibadah, sebagai sarana untuk bertemu dengan penciptanya, dalam batas-batas tertentu sesuai kemampuan masing-masing individu. Sebab syahadah (kesaksian) harus dibuktikan dengan tindakan yang menunjukkan ketaatan dan kepasrahan terhadap sang Khaliq, dan bukti ketaatan itulah yang menjadikan manusia sedapat mungkin mendekat kepada Penciptanya. Lain dari pada itu, ibadah merupakan sarana peningkatan energi sepiritual, yang dengannya seseorang dapat membuka mata hatinya. Mata hatilah yang mampu membawa manusia untuk bertemu dengan Pencipta, sebagaimana yang dialami para nabi dan orang-orang saleh yang dikehendaki oleh Allah Swt. Rasulullah dalam haditsnya mengajarkan agar kita menyembah Allah seakan kita melihatNya, namun jika kita tidak mampu melihatNya maka sebenarnya Dia melihat kita.1
Dalam ibadah vertikal, bentuk peribadatan yang diajarkan oleh Allah kepada para nabi dan rasulnya sebenarnya tidak jauh berbeda; dalam ajaran Nabi Musa dan Nabi Isa dikenal ada shalat (arti shalat menurut etimologi adalah berdo’a) dan puasa, seperti yang akan kita bahas nanti.
Kesamaan bentuk ibadah dikalangan nabi-nabi seperri Musa, Isa dan Muhammad bukanlah suatu kebetulan atau sekedar tradisi Semit, namun lebih merupakan kesatuan risalah ilahi yang dibawa oleh para nabi pada setiap masa hingga masa nabi Muhammad. Jika dikemudian hari cara peribadatan itu ada yang berubah atau malah hilang, maka yang perlu dipertanyakan adalah umat itu sendiri, sebab para nabi telah menyampaikan risalah yang dibawanya.
Ibadah Horizontal.
Dalam hubungan antar manusia, para nabi mengajarkan pentingnya moral, individu dan kelompok. Secara individu mereka mengajarkan agar manusia bersikap mengasihi dan berbuat adil terhadap diri sendiri clan orang lain. Nabi Musa yang menerima 10 perintah Allah, selain masalah tauhid yang merupakan pokok pertama, juga menyebutkan ajaran-ajarau sosial. Dalam Injil, tentang perintah utama -setelah yang pertama, masalah pengesaan Allah-, disebutkan: :
“Perintah yang kedua ialah : Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Markus 12: 31).
Dan Rasulullah mengajarkan :
Dari Abdullah bin Amru: Rasulullah Saw. bersabda: “Orang yang mengasihi akan dikasihi oleh yang Maha Pengasih. Kasihilah siapapun yang di atas bumi, maka engkau akan dikasihi yang ada dilangit…. ” (HR. Tirmidzi).2
Mengasihi diri sendiri dengan tetap memperhatikan tubuh kasar untuk mendapatkan hak-haknya, berbuat adil terhadap diri sendiri dengan menuntut diri agar melaksanakan kewajiban dan tanggung jawab yang dipikulnya. Mengasihi orang lain dengan segala perbuatan yang mendatangkan manfaat, berbuat adil kepada orang lain dengan tidak melanggar hak-hak orang lain. Ajaran untuk peduli sesama dalam Islam di wakili dalam salah satu rukunnya yaitu zakat, setelah sebelumnya dilatih untuk menumbuhkan empati melalui puasa -menahan lapar dan haus seperti yang dialami mereka para fakir miskin-. Mengeluarkan harta benda untuk diberikan pada mereka yang berhak dan tentunya tanpa keinginan mendapat ganti dari manusia, merupakan simbol utama dari kepedulian terhadap sesama, sebab kecintaan manusia terhadap harta kadang melebihi kecintaan terhadap seseorang yang dekat sekalipun. Apalagi masyarakat modern yang sering menganggap segala sesuatu berdasarkan nilai uang, mengeluarkan harta seringkali dengan harapan imbalan, minimal promosi.
Selain ajaran untuk mengasihi sesama, prinsip keadilan luga ditekankan agar tidak ada individu yang terdzalimi oleh individu lain.
Dalam Taurat disebutkan :
Maka jangan kamu sayang akan dia, melainkan jiwa akan ganti jiwa, dan mata akan ganti mata, dan gigi akan ganti gigi, dan tangan akanganti tangan, dan kaki akanganti kaki adanya. (Ulangan 19:21)3
Dalam Injil, nabi Isa menyebutkan seperti hukum Taurat
Kamu sudah mendengar perkataan demikian: Mata ganti mata, dan gigi ganti gigi; (Matius S: 38).
Hal ini ditegaskan lagi oleh al-Qur’an:
Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At­ Taurat) bahwasannya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka (pun) ada kisasnya. Barangsiapa yang melepaskan ( hak kisas) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim. (Al-Maidah 45).
Ayat Qishas dalam ketiga kitab samawi ini mencerminkan prinsip keadilan yang paling mendasar; pelanggaran atas hak orang lain yang jika ringan maka diganjar ringan tapi jika berat maka harus diganjar berat. Jika terbalik maka ketidak-adilan akan merebak, mereka yang berkuasa akan sewenang-wenang dan hukum dapat dibeli, palu kedzaliman bisa diketok di meja pengadilan dengan senyum manis, ketidak percayaan masyarakat terhadap aparat hukum menjadikan mereka bisa lebih kejam dari yang dibayangkan -akibat mencuri seseorang bisa dibakar-, yang tersisa hanya hukum rimba. Jika itu yang terjadi, maka fitrah manusia menjadi tumpul, hingga mengeras melebihi batu, dan agama hanya dijadikan ritual tahunan saja untuk menjaga gengsi clan populeritas, bagaimana mungkin dapat mencapai kedekatan dengan Penciptanya?
Keduanya tak terpisahkan
Moralitas individu dan sosial, selain demi kenyamanan hidup manusia, merupakan sarana pembersihan jiwa agar fitra manusia tidak terkikis oleh hiruk-pikuk keduniaan, seperti halny ibadah vertikal. Maka tidak heran jika Rasulullah mengajarkan bahwa memotong kuku termasuk fitrah4, dan memungut pak dan sejenisnya dari jalanan adalah sebagian dari iman, seper dalam hadits berikut ini:
Dari Abu Hurairah mengatakan, bersabda Rasulullah Saw.: “Iman itu ada tujuh puluh lebih atau enam puluh lebih macamnya, yang paling baik adalah mengatakan tiada ilah selain Allah, dan yang terendah adalah rnernungut adza (hal­hal yang rnembahayakan pejalan) dari jalan; dan malu adalah bagian dari pada iman”. (HR. Muslim) 5
Penyebutan angka tujuh puluh dan enam puluh lebil adalah gaya bahasa hiperbol yang sering dipakai oleh bahasa Arab (Semit) untuk menyatakan banyaknya sesuatu. Dari hadit di atas kita mendapat gambaran bahwa keimanan kepada Allah dijabarkan dalam ibadah vertikal seperti syahadat, serta ibadal horizontal dengan menyempurnakan moral seperti memungut paku (dan sejenisnya) dari jalanan. Seperti halnya shalat dan puasa, maka berbuat baik pada diri sendiri clan orang lain adalal untuk menjaga fitrah manusia. Dan fitrah adalah universal merupakan anugrah Allah kepada makhluqnya, hanya saja manusia kadang tertutup fitrahnya oleh hawa nafsunya sendiri tidakkah kita melihat, jika ada seseorang tertimpa musibah – misalnya- kita akan merasa iba dan ingin menolong, namui perasaan itu bisa terkubur ketika nafsu mengatakan bahwa dia adalah “orang lain” dan mungkin berubah 180% menjadi sikap nyukurin ketika hawa nafsu mengatakan ia adalah “musuh” Maka dari itu perang terhadap hawa nafsu yang dihembuskan oleh Setan menjadi jihad terbesar dalam ajaran Islam.
Hal yang sama telah disampaikan oleh Nabi Isa dalan nasehatnya kepada murid-muridnya, ia mengatakan :
“Berjaga jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam percobaan; roh memang berniat baik, tetapi tabiat manusia lemah.” (Markus l4: 38).
Roh manusia menurut al-Qur’an dibekali dengan fitrah ilahiah6 maka cenderung lurus, namun tabiat manusia seringkali kalah menahan godaan setan, hingga hawa nafsu menguasi dirinya dan fitrahnya menjadi redup. Itulah sebabnya baik Nabi Muhammad maupun para nabi sebelumnya, mengajarkan disiplin diri dalam ritual peribadatan seperti shalat dan puasa, juga budi pekerti dan menjaga diri dari perbuatan tercela yang dapat mengotori fitrahnya.
Dari seluruh ibadah vertikal dan horizontal, pemungkasnya adalah mengunjungi bait Allah, dalam ajaran Islam disebut haji, yang dilakukan di Makkah dalam waktu
tertentu. Pembahasan tentang masing-masing ibadah di atas akan kami lengkapi pada bahasan tersendiri.
Apa yang diajarkan oleh para nabi dan rasul serta kitab­kitab yang diturunkan kepada masing-masing rasul, pada hakekatnya sama, hanya saja umatnya yang menyikapi berbeda.
Oleh sebab itu maka Allah memperingatkan agar hukum yang pernah diturunkan kepada masing-masing umat untuk dijaga dan ditegakkan. Dalam Al-Qur’an Allah menegur mereka yang telah diberi kitab:
Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran­ajaran Taurat, Injil dan al-Qur’an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu”. Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan dari mereka; maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu.
Teguran Allah melalui nabi terakhirnya bukanlah tanpa alasan, kita saat ini dapat melihat apakah shalat, dan puasa dijalankan di dua agama samawi sebelum Islam? Kalaupun sebagian mereka menjalankan -khususnya puasa-, namun tata cara yang ada di dalam bibel hanya bersifat global, seperti wudlu’ misalnya, dalam perjanjian lama hanya disebutkan membasuh tangan dan kaki sebelum memulai peribadatan, demikian juga dengan shalat dan puasa; semuanya bersifat global tidak tidak ada rinciannya.
Apalagi pada masa sekarang, ketika panggung agama Yahudi dan Kristen beralih ke Amerika dan Eropa, sisi ibadah vertikal yang begitu sakral sudah berubah, apalagi ibadah horizontal. Pesan-pesan agama tentang aturan hidup sudah dianggap kuno, maka ajaran kitab suci kadang terpaksa diganti (lihat bahasan tentang kitab suci). Kemegahan duniawi yang dicapai oleh kiblat kedua agama di atas tidak disertai dengan kemajuan spiritual, yang membuat masyarakat keduanya menjadi kering dan bimbang, tanpa tujuan hidup yang berarti, maka tidak mengherankan jika tolak ukur keberhasilan adalah materi. Kekeringan ruhani yang menjurus kepada kehidupan tanpa aturan, akan lebih terlihat dalam jawaban atas hujatan buku Islamic Invasion pada kajian berikut :
NOTES
1. Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Daar al-Fikr-Beirut, 1994, Vol. I, hal, 23.
2. Menurut Abu Isa hadits ini hasan-shahih. Jami’ at Tirmidzi, Imam Tirmidzi, kitab al-birri wa ash-shilah, bab maa jaa’a fi rahmat an-naas.
3. Lihat juga: Keluaran 21: 23-25, Imamat 24: 19-21.
4. Dari Abu Hurairah, dari Nabi Saw. bersabda: “Fitrah itu ada lima (atau lima macam dari fitrah): Khitan, bercukur, memotong kuku, mencabut (bulu) ketiak, dan memotong kumis”. Diriwayatkan oleh
Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Daar al-Fikr, Beirut, 1992, vol. l, hal. 135.
5. Al Bukhari, Op. cit., I/42.
6. Robert Morey, Robert Morey, The Islamic Invasion – confronting the World’s Fastest Growing Relegion, Scholars Press, Las Vegas, 1991′ ha1183.

Tidak ada komentar: