Cari Di Blog Ini

Rabu, 30 November 2011

Sejarah Penyusunan Al-Qur'an

Oleh Pecinta Ibadah
II. KEASLIAN QUR-AN                                
SEJARAH PENYUSUNANNYA

Keaslian yang  tak  dapat  disangsikan  lagi  telah  memberi

kepada Qur-an suatu kedudukan istimewa di antara kitab-kitab
Suci, kedudukan itu khusus bagi Qur-an, dan tidak  dibarengi

oleh  Perjanjian  lama dan Perjanjian Baru. Dalam dua bagian
pertama   daripada   buku   ini   kita   telah   menjelaskan


perubahan-perubahan  yang  terjadi dalam Perjanjian Lama dan
empat Injil, sebelum Bibel dapat kita baca dalam  keadaannya

sekarang.  Qur-an  tidak  begitu  halnya, oleh karena Qur-an
telah ditetapkan pada zaman Nabi  Muhammad,  dan  kita  akan

lihat bagaimana caranya Qur-an itu ditetapkan


Perbedaan-perbedaan  yang memisahkan wahyu terakhir daripada
kedua wahyu sebelumnya, pada pokoknya tidak  terletak  dalam

"waktu   turunnya"   seperti  yang  sering  ditekankan  oleh
beberapa pengarang yang  tidak  memperhatikan  hal-hal  yang

terjadi  sebelum  kitab  suci  Yahudi Kristen dibukukan, dan
hal-hal yang terjadi sebelum pembukuan Qur-an,  mereka  juga

tidak  memperhatikan  bagaimana Qur-an itu diwahyukan kepada
Nabi Muhammad.

Orang mengatakan bahwa teks yang ada pada  abad  VII  Masehi

mempunyai  kemungkinan  yang  lebih besar untuk dapat sampai
kepada kita tanpa perubahan daripada teks  yang  jauh  lebih

tua  daripada  Qur-an  dengan  perbedaan  15 abad. Kata-kata
tersebut adalah tepat, akan tetapi tidak memberi  keterangan

yang  cukup.  Tetapi  di  samping  itu,  keterangan tersebut
diberikan untuk memberi  alasan  kepada  perubahan-perubahan

teks   kitab   suci   Yahudi  Kristen  yang  terjadi  selama
berabad-abad, dan bukan untuk menekankan bahwa  teks  Qur-an

itu  karena  lebih  baru  daripada  teks  kitab  suci Yahudi
Kristen, lebih sedikit mengandung kemungkinan untuk  dirubah

oleh manusia.


Bagi  Perjanjian  Lama,  yang  menjadi  sebab kekeliruan dan
kontradiksi yang  terdapat  di  dalamnya  adalah:  banyaknya

pengarang  sesuatu riwayat, dan seringnya teks-teks tersebut
ditinjau kembali dalam periode-periode sebelum lahirnya Nabi

Isa;  mengenai  empat  Injil  yang  tidak  ada  orang  dapat
mengatakan bahwa kitab-kitab itu mengandung kata-kata  Yesus

secara  setia  dan  jujur  atau  mengandung  riwayat tentang
perbuatan-perbuatan  yang  sesuai   dengan   realitas   yang

sungguh-sungguh    terjadi,   kita   sudah   melihat   bahwa
redaksi-redaksi   yang   bertubi-tubi   menyebabkan    bahwa

teks-teks  tersebut kehilangan autentisitas. Selain daripada
itu para penulis Injil tidak merupakan saksi  mata  terhadap

kehidupan Yesus.


Selain  daripada  itu  kita  harus membedakan antara Qur-an,
Wahyu tertulis,  daripada  Hadits  jami'  kumpulan  riwayat,

tentang  perbuatan  dan  kata-kata  Nabi  Muhammad. Beberapa
sahabat Nabi telah mulai mengumpulkannya segera setelah Nabi
Muhammad   wafat.
5
Dalam   hal  ini,  dapat  saja  terjadi

kesalahan-kesalahan yang bersifat  kemanusiaan  karena  para
penghimpun  Hadits adalah manusia-manusia biasa; akan tetapi

kumpulan-kumpulan mereka itu kemudian disoroti dengan  tajam
oleh  kritik  yang sangat serius, sehingga dalam prakteknya,

orang lebih percaya kepada dokumen yang  dikumpulkan  orang,
lama setelah Nabi Muhammad wafat.

Sebagaimana  halnya dengan teks-teks Injil, Hadits mempunyai

autentisitas yang  berlainan,  dari  satu  pengumpul  kepada
pengumpul  yang lain. Sebagaimana hal Injil, tak ada sesuatu

Injil yang ditulis pada  waktu  Yesus  masih  hidup  (karena
semuanya  ditulis  lama  sesudah  Nabi  Isa  meninggal) maka

kumpulan  Hadits  juga  dibukukan  setelah  (Nabi   Muhammad
meninggal).

Bagi  Qur-an,  keadaannya  berlainan. Teks Qur-an atau Wahyu

itu dihafalkan  oleh  Nabi  dan  para  sahabatnya,  langsung
setelah   wahyu   diterima,   dan   ditulis   oleh  beberapa

sahabat-sahabatnya yang ditentukannya. Jadi, dari permulaan,
Qur-an mempunyai dua unsur autentisitas tersebut, yang tidak

dimiliki Injil. Hal ini  berlangsung  sampai  wafatnya  Nabi
Muhammad.  Penghafalan  Qur-an  pada  zaman  manusia sedikit

sekali yang dapat menulis, memberikan kelebihan jaminan yang
sangat  besar  pada waktu pembukuan Qur-an secara definitif,

dan  disertai  beberapa  regu  untuk   mengawasi   pembukuan
tersebut.

Wahyu  Qur-an  telah  disampaikan  kepada Nabi Muhammad oleh

malaikat Jibril, sedikit demi sedikit selama lebih  dari  20
tahun.  Wahyu  yang  pertama  adalah yang sekarang merupakan

ayat-ayat pertama daripada surat nomor  96.  Kemudian  Wahyu
itu  berhenti  selama  3  tahun,  dan mulai lagi berdatangan

selama 20 tahun sampai wafatnya Nabi Muhammad pada tahun 632
M.;  dapat  dikatakan  bahwa  turunnya  Wahyu berlangsung 10

tahun sebelum Hijrah (622) dan 10 tahun lagi sesudah Hijrah.


Wahyu yang pertama diterima  Nabi  Muhammad  adalah  sebagai
berikut (Surat 96 ayat 1-5):

6


"Bacalah  dengan  {menyebut)  nama Tuhanmu yang menciptakan.
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.  Bacalah,

dan  Tuhanmulah yang paling pemurah. Yang mengajar (manusia)
dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa

yang tidak diketahuinya."


Professor  Hamidullah mengatakan dalam Pengantar yang dimuat
dalam terjemahan Qur-an bahwa isi dari wahyu pertama  adalah

"penghargaan  terhadap  kalam sebagai alat untuk pengetahuan
manusia" dan dengan begitu  maka  menjadi  jelas  bagi  kita

"perhatian  Nabi  Muhammad untuk menjaga kelangsungan Qur-an
dengan tulisan."

Beberapa teks menunjukkan secara formal bahwa  lama  sebelum

Nabi  Muhammad  meninggalkan  Mekah untuk hijrah ke Madinah,
ayat-ayat Quran yang telah diwahyukan kepada  Nabi  Muhammad

sudah  dituliskan.  Kita  nanti akan mengetahui bahwa Qur-an
membuktikan hal tersebut.

Kita mengetahui bahwa Nabi Muhammad dan pengikut-pengikutnya

biasa  menghafal  teks-teks  yang  telah  diwahyukan. Adalah
tidak masuk akal jika Qur-an menyebutkan hal-hal yang  tidak

sesuai  dengan  realitas, karena hal-hal itu mudah dikontrol
disekeliling  Muhammad  yakni  oleh   sahabat-sahabat   yang

mencatat Wahyu tersebut.


Empat  Surat  Makiyah  (diturunkan  sebelum  Hijrah) memberi
gambaran  tentang  redaksi  Qur-an  sebelum  Nabi   Muhammad

meninggalkan Mekah pada tahun 622 M.


Surat 80 ayat 11-1 6:


"Sekali-kali  jangan  (demikian), sesungguhnya ajaran-ajaran
Tuhan  itu  adalah  peringatan,  maka  barang   siapa   yang

menghendaki, tentulah ia memperhatikan. Di dalam kõtab-kitab
yang dimuliakan, yang ditinggikan, lagi disucikan. Di tangan

para penulis, yang mulia lagi berbakti."


Yusuf  Ali, dalam Terjemah Qur-an yang ditulisnya pada tahun
1936 mengatakan bahwa pada waktu Surat  tersebut  diwahyukan

sudah  ada  42  atau  45  Surat  yang beredar di antara kaum
muslimin di Mekah (Jumlah Surat-surat  dalam  Qur-an  adalah

114 Surat).


"Bahkan  yang  didustakan  mereka  itu  ialah al Qur-an yang
mulia yang tersimpan dalam Lauhul Mahfudz."

"Sesungguhnya Al Qur-an ini adalah bacaan yang sangat  mulia

(yang   terdapat)   pada   kitab  yang  terpelihara  (Lauhul
Makfudz).  Tidak  menyentuhnya  kecuali   orang-orang   yang

disucikan. Diturunkan dari Tuhan semesta alam."


"Dan  mereka berkata (lagi). Dongengan-dongengan orang-orang
dahulu  dimintanya  supaya  dituliskan,  maka   dibacakanlah

dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang."


Ayat  tersebut  menyinggung dakwaan para lawan Nabi Muhammad
yang  menuduh  bahwa  Muhammad  adalah  Nabi  palsu,  mereka

menggambarkan  bahwa ada orang yang mendiktekan sejarah kuno
kepada    Nabi    Muhammad     dan     Muhammad     menyuruh

sahabat-sahabatnya untuk menulisnya.


Ayat  tersebut menyebutkan: "Pencatatan dengan tulisan" yang
didakwakan kepada Muhammad oleh lawan-lawannya.


II. KEASLIAN QUR-AN                                


Suatu Surat  yang  diturunkan  sesudah  Hijrah,  menyebutkan
tentang   lembaran-lembaran   yang   di   dalamnya  tertulis

perintah-perintah suci.


Surat 98 ayat 2 dan 3:


"Seorang  Rasul  dari  Allah  (yaitu  Nabi  Mahammad)   yang
membacakan  lembaran-lembaran yang disucikan (Al Qur-an). Di

dalamnya terdapat (isi) kitab-kitab yang lurus."


Dengan  begitu  maka  Qur-an  sendiri  memberitahukan  bahwa
penulisan Quran telah dilakukan semenjak Nabi Muhammad masih

hidup. Kita mengetahui bahwa Nabi  Muhammad  mempunyai  juru
tulis-juru  tulis banyak, di antaranya yang termashur adalah

Zaid bin Tsabit.


Dalam  pengantar  dalam  Terjemahan  Qur-annya  (197)  Prof.
Hamidullah  melukiskan  kondisi  waktu  teks  Qur-an ditulis

sampai Nabi Muhammad wafat.


Sumber-sumber sepakat untuk mengatakan bahwa tiap kali suatu
fragmen  daripada  Qur-an diwahyukan, Nabi memanggil seorang

daripada  para  sahabat-sahabatnya   yang   terpelajar   dan
mendiktekan kepadanya, serta menunjukkan secara pasti tempat

fragmen   baru   tersebut    dalam    keseluruhan    Qur-an.
Riwayat-riwayat  menjelaskan  bahwa setelah mendiktekan ayat

tersebut, Muhammad minta kepada juru tulisnya untuk  membaca
apa yang sudah ditulisnya, yaitu untuk mengadakan pembetulan

jika  terjadi  kesalahan.   Suatu   riwayat   yang   masyhur
mengatakan  bahwa  tiap  tahun  pada  bulan  Ramadlan,  Nabi

Muhammad membaca ayat-ayat Qur-an yang sudah diterimanya  di
hadapan  Jibril.  Pada  bulan Ramadlan yang terakhir sebelum

Nabi Muhammad  meninggal,  malaikat  Jibril  mendengarkannya
membaca   (mengulangi   hafalan)   Qur-an   dua  kali.  Kita

mengetahui  bahwa  semenjak  zaman  Nabi   Muhammad,   kaum
muslimin  membiasakan diri untuk berjaga pada bulan Ramadlan

dan melakukan ibadat-ibadat tambahan dengan membaca  seluruh
Qur-an.  Beberapa  sumber  menambahkan  bahwa pada pembacaan

Qur-an yang terakhir di  hadapan  Jibril,  juru  tulis  Nabi
Muhammad   yang   bernama  Zaid  hadir.  Sumber-sumber  lain

mengatakan bahwa di samping Zaid  juga  ada  beberapa  orang
lain yang hadir.

Untuk  pencatatan  pertama,  orang  memakai  bermacam-macarn

bahan seperti kulit, kayu, tulang  unta,  batu  empuk  untuk
ditatah dan lain-lainnya.

Tetapi  pada  waktu  yang  sama Muhammad menganjurkan supaya

kaum muslimin menghafalkan Qur-an, yaitu bagian-bagian  yang
dibaca   dalam  sembahyang.  Dengan  begitu  maka  muncullah

sekelompok orang yang dinamakan hafidzun (penghafal  Qur-an)
yang   hafal   seluruh   Qur-an  dan  mengajarkannya  kepada

orang-orang lain. Metoda ganda untuk memelihara teks  Qur-an
yakni   dengan   mencatat   dan  menghafal  ternyata  sangat

berharga.


Tidak lama setelah  Nabi  Muhammad  wafat  (tahun  632  M.),
penggantinya  (sebagai  Kepala  Negara),  yaitu  Abu  Bakar,

Khalifah yang pertama, minta kepada juru  tulis  Nabi,  Zaid
bin   Tsabit   untuk  menulis  sebuah  Naskah;  hal  ini  ia

laksanakan.


Atas initiatif Umar (yang kemudian menjadi Khalifah  kedua),
Zaid  memeriksa dokumentasi yang ia dapat mengumpulkannya di

Madinah; kesaksian daripada penghafal  Qur-an,  copy  Qur-an
yang  dibikin  atas  bermacam-macam  bahan dan yang dimiliki

oleh pribadi-pribadi, semua itu untuk menghindari  kesalahan
transkripsi  (penyalinan  tulisan)  sedapat  mungkin. Dengan

cara ini, berhasillah  tertulis  suatu  naskah  Qur-an  yang
sangat dapat dipercayai.

Sumber-sumber  mengatakan  bahwa  kemudian  Umar bin Khathab

yang menggantikan Abu Bakar pada tahun 634 M, menyuruh bikin
satu  naskah  (mushaf) yang ia simpan, dan ia pesankan bahwa

setelah ia mati, naskah tersebut  diberikan  kepada  anaknya
perempuan, Hafsah janda Nabi Muhammad

Khalifah  ketiga,  Uthman bin Affan yang menjabat dari tahun

644  sampai  655,  membentuk  suatu  panitya  yang   terdiri
daripada   para   ahli  dan  memerintahkan  untuk  melakukan

pembukuan  besar  yang  kemudian   membawa   nama   Khalifah
tersebut.  Panitya  tersebut  memeriksa  dokumen yang dibuat

oleh  Abubakar  dan  yang  dibuat  oleh  Umar  dan  kemudian
disimpan   oleh   Hafsah,   panitya   berkonsultasi   dengan

orang-orang yang hafal Qur-an. Kritik  tentang  autentisitas
teks  dilakukan secara ketat sekali. Persetujuan saksi-saksi

diperlukan untuk menetapkan suatu ayat  kecil  yang  mungkin
mempunyai  arti  lebih  dari  satu;  kita  mengetahui  bahwa

beberapa ayat Qur-an dapat menerangkan ayat-ayat  yang  lain
dalam  soal ibadat. Hal ini adalah wajar jika kita mengingat
bahwa kerasulan Muhammad adalah sepanjang dua puluh tahun.
7


Dengan cara tersebut di atas,  diperolehlah  suatu  teks  di
mana  urutan  Surat-surat mencerminkan urutan yang dilakukan

oleh Nabi Muhammad ketika membaca Qur-a:n di bulan  Ramadlan
di  muka  malaikat  Jibril seperti yang telah diterangkan di

atas.


Kita dapat bertanya-tanya tentang  motif  yang  mendorong  3
Khalifah  pertama, khususnya Uthman untuk mengadakan koleksi

dan  pembukuan  teks.  Motif  tersebut   adalah   sederhana;
tersiarnya Islam adalah sangat cepat pada beberapa dasawarsa

yang pertama  setelah  wafatnya  Nabi  Muhammad.  Tersiarnya
Islam  tersebut  terjadi  di  daerah-daerah yang penduduknya

tidak  berbahasa  Arab.  Oleh  karena   itu   perlu   adanya
tindakan-tindakan  pengamanan  untuk  memelihara  tersiarnya

teks Qur-an dalam kemurnian aslinya. Pembukuan Uthman adalah
untuk memenuhi hasrat ini.

Uthman   mengirimkan   naskah-naskah  teks  pembukuannya  ke

pusat-pusat Emperium Islam, dan oleh karena itu maka menurut
Professor Hamidullah , pada waktu ini terdapat naskah Qur-an
(mushaf) Uthman di Tasykent
8 dan Istambul. Jika  kita  sadar
akan  kesalahan  penyalinan  tulisan  yang  mungkin terjadi,

manuskrip  yang  paling  kuno  yang  kita  miliki  dan  yang
ditemukan di negara-negara Islam adalah identik. Begitu juga

naskah-naskah yang ada di Eropa. (Di  Bibliotheque  National
di  Paris  terdapat  fragmen-fragmen yang menurut para ahli,

berasal dan abad VIII dan IX Masehi,  artinya  berasal  dari
abad II dan III Hijrah). Teks-teks kuno yang sudah ditemukan

semuanya sama, dengan catatan ada  perbedaan-perbedaan  yang
sangat  kecil  yang  tidak  merubah  arti teks, jika konteks

ayat-ayat memungkinkan cara membaca  yang  lebih  dari  satu
karena   tulisan   kuno  lebih  sederhana  daripada  tulisan

sekarang.


Surat-surat Qur-an yang berjumlah 114, diklasifikasi menurut
panjang  pendeknya, dengan beberapa kekecualian. Oleh karena

itu  urutan  waktu  (kronologi)  wahyu  tidak  dipersoalkan;
tetapi  orang  dapat  mengerti hal tersebut dalam kebanyakan

persoalan.  Banyak  riwayat-riwayat  yang  disebutkan  dalam
beberapa  tempat  dalam  teks,  dan  hal  ini  memberi kesan

seakan-akan  ada  ulangan.  Sering  sekali  suatu   paragraf
menambahkan  perincian  kepada  suatu riwayat yang dimuat di

lain tempat secara kurang terperinci. Dan semua yang mungkin
ada  hubungannya  dengan  Sains  modern,  seperti kebanyakan

hal-hal yang  dibicarakan  oleh  Qur-an,  dibagi-bagi  dalam
Qur-an dengan tidak ada suatu tanda adanya klasifikasi.


BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern
Dr. Maurice Bucaille

Judul Asli: La Bible Le Coran Et La Science

Alih bahasa: Prof. Dr. H.M. Rasyidi
Penerbit Bulan Bintang, 1979
Kramat Kwitang I/8 Jakarta<

Tidak ada komentar: