Cari Di Blog Ini

Kamis, 01 Desember 2011

Membongkar Kebobrokan Penafsiran Surah Az-Zukhruf, Ayat 61

oleh Kasak Kusuk

Kita sudah melihat bagaimana para misionaris Kristian menyalahtafsir ayat-ayat Al-Qur’an yang memanggil ‘Isa Al-Masih sebagai “Kalimatullah” untuk menguatkan sokongan pada doktrin mereka bahawa ‘Isa itu adalah Allah yang muncul sebagai manusia. Penafsiran yang janggal seperti ini rupanya bukan sahaja dikhususkan untuk ayat ini sahaja, malah kita mendapati juga pertuduhan terhadap ayat Al-Qur’an yang seperti berikut:
Di dalam Injil, Yohanes 14:6 Isa berfirman “Akulah jalan untuk mengenal Allah dan untuk mendapat hidup. Tidak seorang pun yang dapat datang kepada Allah kalau tidak melalui Aku.” Ayat ini jelas dan sering menghantui saya kerana di dalam surah Al-Fatihah 1:6 “Ihdinasyiraatallmustaqiim” yang bermaksud ‘tunjukkanlah aku jalan yang lurus’. Setiap kali waktu saya sembahyang, saya membaca ayat ini untuk meminta petunjuk agar ditunjukkan jalan yang lurus. Kepercayaan kepada Isa Al-Masih membawa jaminan penyelamatan. Ini terbukti di dalam Al-Qur’an Surah Az-Zukhruf 61 yang berbunyi: “hazaasyiraatolmustaqiim”, yang maksudnya; “Ikutlah Aku, inilah jalan yang lurus”.
Kita akan mengkaji ayat Al-Qur’an yang disebutkan oleh puak Kristian di dalam pertuduhan mereka.

Apakah Maksud Sebenar Surah Al-Zukhruf, ayat 61?
Mari kita lihat tafsiran ayat Surah Al-Zukhruf ayat 61 yang dipergunakan oleh misionaris Kristian:
“Ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus”
Ayat di atas hanyalah sebahagian daripada ayat yang termaktub di dalam Surah Al-Zukhruf ayat 61 dan terjemahan yang sepenuhnya ialah:
“Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari Kiamat. Kerana itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus.”
Tetapi apa yang misionaris sengaja melakukannya ialah mereka hanya mengambil ayat ini untuk menyamakannya dengan ayat Yohanes 14:6, tanpa menurunkan seluruh konteks ayat ini. Ayat ini hanyalah merupakan sebahagian daripada keseluruhan Firman Allah sendiri yang dengan jelas menegaskan tentang siapa ‘Isa itu, dan tidak langsung merujuk kepada perkataan ‘Isa . Di sini kami perturunkan seluruh konteks ayat-ayat (termasuk ayat di atas) di mana Allah-lah yang sebenarnya berbicara di dalam ayat di atas, dan bukannya Nabi ‘Isa:
“Isa itu tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian) dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani Israil. Dan kalau Kami kehendaki benar-benar Kami jadikan sebagai gantimu di muka bumi malaikat-malaikat yang turun temurun. Dan sesungguhya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Kerana itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus. Dan janganlah kamu sekali-kali dipalingkan oleh syaitan; sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (Surah Al-Zukhruf: 59-62)
Sekali lagi tembelang misionaris Kristian yang memalsukan penafsiran ayat ini sudah pecah, dengan pembohongan yang jelas hanya menjerat diri sendiri. Dengan jelas kita dapat melihat bahawa ALLAH-lah yang berfirman di dalam Surah Al-Zukhruf, ayat 62 dan bukannya sabda ‘Isa a.s. Malah, kita melihat bahawa Al-Qur’an dengan tegas menjelaskan bahawa ‘Isa itu hanyalah semata-mata hamba Allah:
“Isa itu tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian) dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani Israil.” (Surah Al-Zukhruf: 59)
window.google_render_ad();
Jadi di manakah kesahihan dakwaan Kristian bahawa ayat di atas menyokong doktrin ketuhanan Nabi ‘Isa Al-Masih?
Dr. Hamka juga telah memberikan penafsiran yang jelas mengenai ayat di atas serta sebab turunnya ayat-ayat Surah Al-Zukhruf: 59-62 di atas.
Terdahulu dari Surah Al-Zukhruf ini diturunkan Surah Al-Anbiya’ (Surah ke 21). Pada ayat 98 dari Surah Al-Anbiya itu ada difirmankan: “Sesungguhnya kamu dan apa-apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah akan jadi bakaran jahanam, yang akan kamu masuki”. Seorang pemuka Quraisy musyrikin itu bernama Abdullah bin Az Zab’ari, setelah mendengar ayat tersebut, lalu mencuba hendak membantah Nabi dan berkata: “Kalau benar orang yang menyembah selain Allah yang disembahnya sendiri akan menjadi kayu api neraka jahanam, bagaimana dengan Isa Almasih? Bagaimana dengan ibunya? Bagaimana dengan malaikat-malaikat? Engkau mengatakan Isa dan ibunya itu semua orang-orang terpuji. Semuanya itu disembah orang Nasrani selain dari Allah. Begitu juga ada orang Yahudi mengatakan ‘Uzair anak Allah. Maka kalau orang-orang itu masuk neraka, kami ini semuanya ridha masuk neraka supaya bersama-sama di neraka dengan mereka!” (Abdullah Az Zab’ari itu kemudian beriman juga).
Mendengar sanggahan Abdullah Az Zab’ari yang demikian, bersoraklah musyrikin yang lain menyokong perkataan temannya itu! Dan mereka merasa yakin bahawa sekali ini hujjah aturan Muhammad sudah dapat dipatahkan. Dan untuk membuka kerendahan mutu bantahan mereka itu, turunlah ayat-ayat ini.

“Dan tatkala Ibnu Maryam dijadikan contoh, tiba-tiba kaum engkau dari sebab itu bersorak-sorak”.
(ayat 57) Mereka bersorak-sorak kerana merasa mendapat alasan teguh untuk membantah Nabi.

“Dan mereka berkata: Adakah tuhan-tuhan kita yang lebih baik ataukan dia?”
(pangkal ayat 58).
Yang mereka maksudkan dengan dia itu ialah Nabi Isa Alaihis Salam. Maka kalau Nabi Isa yang dipuji Muhammad itu masuk neraka kerana dia disembah orang, tentu tuhan-tuhan kita juga sama ke neraka dengan Isa orang baik. Lantaran itu maka tuhan-tuhan kitapun orang-orang terpuji seperti Isa juga. Begitulah cara mereka hendak memutar balik keadaan.
Sebab itu, maka di ujung ayat dikatakan: “Tidaklah mereka pukulkan perkataan itu kepada engkau”. Yaitu menurut wahyu Surah Al-Anbiya ayat 98. “Melainkan sebagai bantahan”. Bantahan asal membantah saja. “Bahkan mereka itu adalah kaum yang suka bertengkar”. (ujung ayat 58)
Lalu diperbaiki kembali salah-sangka yang mereka timbulkan terhadap Nabi Isa anak Maryam:
“Tidaklah dia itu melainkan seorang hamba yang Kami beri nikmat kepadanya dan Kami jadikan dia contoh bagi Bani Israil” (ayat 59). Artinya, Isa tidaklah dalam golongan manusia atau berhala yang akan dimasukkan ke neraka lantaran dia disembah dan dipertuhan orang. Selama dia hidup, dia tidak pernah mengajak manusia supaya menyembah pula kepadanya sebagai menyembah kepada Allah. Dia adalah hamba Allah dan bukan anak-Nya. Dia diberi nikmat kenabian dan dia menjadi contoh yang baik bagi Bani Israil tentang keluhuran budi dan ketaatan kepada Tuhan. Dan ternyata dalam sejarah bahwa menetapkan Isa sebagai satu di antara satu tuhan, atau bahwa dia anak tunggal Tuhan, baru dijadikan keputusan oleh rapat Pendeta Nasrani setelah dia meninggal dunia.
Satu soal lagi, yaitu tentang kamu menyembah malaikat: “Dan jikalau Kami kehendaki, nescaya kami jadikan dari antara kamu jadi malaikat di bumi, menggantikan kamu”(ayat 60). Sebab malaikat itupun makhluk Tuhan seperti kamu juga. Bukan dia itu Tuhan, dan bukan anak perempuan Tuhan. Bisa dibuat sesuka-Nya oleh Tuhan, sehingga kalau Tuhan Allah mengkehendaki, tidaklah hal yang sukar bagi-Nya menjadikan kamu jadi malaikat di atas bumi ini, sehingga penduduk manusianya hilang, sebab berganti jadi malaikat semula. Sebab itu tidaklah benar sama sekali kamu menuhankan malaikat di samping Allah.
Kembali tentang Isa anak Maryam:
“Dan sesungguhnya dia itu dalah satu ilmu tentang sa’at. Maka janganlah kamu ragu kepadanya, dan turutilah Aku. Inilah jalan yang lurus” (ayat 61) Isa Almasih dilahirkan ke dunia tidak menurut yang biasa; dengan langsung tidak dengan perantaraan bapa. Apa yang semestinya terfikir olehmu jika memikirkan kejadian itu? Hendaknya ialah betapa Maha Besarnya kekuasaan Allah. Allah membuktikan bahwa dengan tidak dengan perantaraan bapapun, Dia dapat melahirkan seorang manusia ke dunia. Dengan melihat itu ilmumu bertambah dengan melihat dunia ini, bumi ini, satu waktu kalau janjinya datang akan dihancurkan semua. Dan seluruh manusia, walaupun telah beribu-ribu tahun mati, setelah datang waktunya akan dibangkitkan kembali dari dalam kuburnya. Itulah ilmu yang mesti timbul setelah memikirkan kelahiran Nabi Isa. Keganjilan kelahiran Nabi Isa hanya satu keajaiban kecil saja jika dibandingkan misalnya saja dengan bumi yang selalu mengedari matahari, dan bulan yang selalu mengedari bumi Maka janganlah kamu ragu lagi padanya, yaitu bahwa hari akan kiamat. Dan setelah kamu fikirkan Aku menjadikan Isa tidak dengan berbapa, janganlah dia yang kamu pertuhan. Dia hanya hamba dan makhluk-Ku, dan turutilah Aku. Jangan kamu kagum meluhat bekas kekuasaan-Ku, tetapi langsunglah kepada-Ku: Inilah jalan yang lurus. Kalau caranya sekarang: Inilah jalan yang logis.
“Dan sekali-kali janganlah kamu dipaling setan. Sesungguhnya dia itu bagi kamu adalah musuh yang nyata.” Syetanlah yang selalu membelokkan manusia di tengah jalan daripada tujuannya yang lurus. Dialah yang selalu menggoda manusia sehingga dia lupa pada yang empunya kuasa, kerana kagum melihat kekuasaannya. Syetan itulah musuh besar bagi manusia, yang belum puas kalau dia belum menjerumuskan manusia ke jurang kesesatan.”
Sekian sahaja dipetik dari tafsiran Al-Qur’an karangan Prof. Dr. Hamka mengenai ayat-ayat di atas.
Kesimpulan
Jelas kepada kita sekarang akan tafsiran palsu yang cuba digembur-gemburkan oleh puak misionaris Kristian, yang bukan sahaja memiliki argumen-argumen yang bankrap idea, tetapi juga hati yang sangat busuk dan buta akal untuk melihat ayat ini dalam konteks yang sebenarnya. Sudahlah doktrin ketuhanan ‘Isa a.s. tidak dapat dibuktikan di dalam Alkitab, kini mereka beria-ia hendak menyebarkan “penyakit” interpretasi yang dibuat oleh Konsil Nicea pada tahun 325M kepada umat Islam pula! Para misionaris Kristian tidak sekadar berpuas hati dengan hanya menyelewengkan kitab Injil dan cuba pula hendak menyelewengkan kitab suci Al-Qur’an. Namun mereka tidak sedar akan perbezaan yang besar antara ‘Isa versi Islam dan Tuhan Yesus versi Kristian yang mereka agung-agungkan itu. Kami berdoa kepada Yang Maha Esa supaya misionaris Kristian ini diberi hidayah-Nya agar mereka sedar akan kesilapan mereka dan keluar dari kongkongan ilusi ketuhanan ‘Isa putera Maryam, Insya’ Allah.
Rujukan
  • Prof. Dr. Hamka, Tafsir Al-Azhar, Juzu’ 22-23-24-25
  • Alkitab Terjemahan Baru, Lembaga Alkitab Indonesia, 2000

Tidak ada komentar: