Cari Di Blog Ini

Senin, 05 Desember 2011

Antara Mengemis dan Menggalang Dana

Antara Mengemis dan Menggalang Dana

dr. M Faiq Sulaifi

Pada saat terjadinya berbagai bencana ini kita menemukan kegiatan penggalangan danauntuk para korban bencana di berbagai tempat. Selain itu kita juga mendapatkan kegiatan penggalangan dana untuk pembangunan masjid, madrasah dan untuk membantu anak-anak yatim. ...Kita menemukan kegiatan tersebut dengan keadaan langsung seperti di jalan-jalan, di masjid maupun tidak langsung seperti menggunakan surat dan proposal.
Pada saat yang lain kita juga mendapatkan sebagian orang yang melakukan kegiatan meminta-minta baik dengan cara sederhana seperti pengemis jalanan maupun menggunakan proposal.
Contoh pertama adalah kegiatan yang dianjurkan sedangkan contoh yang kedua adalah tercela dan dilarang. Namun yang disayangkan adalah munculnya orang-orang yang “kurang berilmu” yang menyamakan antara mengemis (baca: tasawwul) dan menggalang dana.
Pengertian Tasawwul atau Mengemis
Mengemis atau meminta-minta di-istilahkan dengan bahasa Arab sebagai “tasawwul”.
Dalam Al-Mu’jamul Wasith disebutkan:
( تسول ) سول وسأل واستعطى
“Tasawwala (bentuk fi’il madly dari tasawwul) artinya meminta-minta atau meminta pemberian.” (Al-Mu’jamul Wasith: 1/465).
“Tasawwul” atau meminta-minta yang dicela adalah meminta harta orang lain untuk kepentingan sendiri atau pribadi. Al-Allamah Abdur Rauf Al-Munawi berkata:
(إن المسألة) أي الطلب من الناس أن يعطوه من أموالهم شيئا
“Sabda beliau e (Sesungguhnya meminta-minta) maksudnya adalah menuntut dari manusia agar mereka memberikan sebagian harta mereka untuk dirinya.” (Faidlul Qadir: 2/493).
Demikian pula Al-Allamah Muqbil Al-Wadi’i. Beliau juga menjelaskan batasan tasawwul:
الثاني: قوم يتلصصون لأخذ الزكوات وليسوا مصرفا ثم يصرفونها في مصالحهم الشخصية
“Kelompok kedua (dari orang yang jelek dalam penggunaan harta): adalah kaum yang berusaha mencuri untuk mengambil harta zakat padahal mereka bukanlah golongan yang berhak menerimanya. Kemudian harta itu mereka gunakan untuk kepentingan pribadi mereka.” (Dzammul Mas’alah: 31).
Mengemis atau tasawwul juga bisa diartikan dengan upaya meminta harta orang lainbukan untuk kemaslahatan agama melainkan untuk kepentingan pribadi. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata:
قوله )باب الإستعفاف عن المسألة( أي في شيء من غير المصالح الدينية
“Ucapan Al-Bukhari (Bab Menjaga Diri dari Meminta-minta) maksudnya adalah meminta-minta  sesuatu selain untuk kemaslahatan agama.” (Fathul Bari: 3/336).
Sehingga pengertian “tasawwul” atau “mengemis” adalah meminta (harta) orang lain untuk kepentingan pribadi bukan untuk kemaslahatan agama.
Pengertian Menggalang Dana
Adapun Penggalangan Dana maka meliputi 2 kegiatan:
Kegiatan menganjurkan kaum muslimin untuk shadaqah dan infaq. Ini  yang disebut At-Tahridl. Kegiatan mengumpulkan shadaqah dan infaq kemudian menyalurkannya kepada mereka yang berhak. Ini disebut sebagai Asy-Syafaat. Al-Allamah Zainuddin bin Al-Munayyir (sebagaimana yang dikutip oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar) berkata:
يجتمع التحريض والشفاعة في أن كلا منهما إيصال الراحة للمحتاج ويفترقان في أن التحريض معناه الترغيب بذكر ما في الصدقة من الأجر والشفاعة فيها معنى السؤال والتقاضي للإجابة آنتهى
“Pengertian At-Tahridl dan Asy-Syafaat berkumpul pada memberikan keringanan bagi orang yang membutuhkan dan berpisah pada makna At-Tahridl yang berartimenganjurkan shadaqah dengan menyebutkan pahalanya dan Asy-Syafaat yang berartimeminta shadaqah dan menyampaikannya kepada yang berhak. Selesai.” (Fathul Bari: 3/300).
Tercelanya Mengemis
Agama Islam melarang umatnya untuk meminta-minta atau tasawwul. Rasulullah e bersabda:
لَا تَزَالُ الْمَسْأَلَةُ بِأَحَدِكُمْ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَلَيْسَ فِي وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ
“Meminta-minta akan senantiasa ada pada salah seorang dari kalian sampai dia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak ada sepotong daging pun di wajahnya.” (HR. Muslim: 1724, Ahmad: 4409 dari Abdullah bin Umar t).
Al-Allamah Ibnu Utsaimin berkata:
وهذا وعيد شديد يدل على تحريم كثرة السؤال ولهذا قال العلماء: لا يحل لأحد أن يسأل شيئا إلا عند الضرورة إذا اضطر الإنسان فلا بأس أن يسأل، أما أن يسأل للأمور الكمالية لأجل أن يسابق الناس فيما يجعله في بيته، فإن هذا لا شك في تحريمه، ولا يحل له أن يأخذ شيئا حتى الزكاة ولو أعطيها فلا يأخذها لإنفاقها في الأمور الكمالية التي لا يريد منها إلا أن يساوق الناس ويماريهم أما الشيء الضروري فلا بأس به، والله أعلم
“Ini adalah ancaman keras yang menunjukkan haramnya banyak meminta-minta. Oleh karena itu para ulama berkata: “Tidak halal bagi seseorang untuk meminta sesuatu kecuali ketika terpaksa.” Jika seorang manusia terpaksa maka tidak apa-apa untuk meminta. Adapun jika meminta untuk tujuan kesempurnaan dalam rangka berlomba-lomba untuk memperbanyak isi rumahnya, maka ini tidak diragukan lagi keharamannya. Dan tidak halal mengambil sedikit pun (dari harta) sekalipun dari zakat. Seandainya ia diberi zakat maka janganlah ia mengambilnya untuk perkara kesempurnaan hartanya –yang mana ia berlomba-lomba dan berbangga-bangga atas manusia-. Adapun jika sesuatu yang terpaksa maka tidak apa-apa dengannya. Wallahu a’lam.” (Syarh Riyadlish Shalihin: 1/557).
Rasulullah e juga bersabda:
لَا تَحِلُّ الصَّدَقَةُ لِغَنِيٍّ وَلَا لِذِي مِرَّةٍ سَوِيٍّ
“Harta Zakat tidak halal bagi orang yang kaya dan juga bagi orang yang masih mempunyai kekuatan (untuk bekerja) yang tidak cacat.” (HR. Abu Dawud: 1392, Ibnu Majah: 1829, dan At-Tirmidzi: 589 dari Abu Hurairah t, di-shahih-kan oleh Ibnul Mulaqqin dalam Al-Badrul Munir: 7/362)
Rasulullah e bersabda:
مَنْ سَأَلَ النَّاسَ أَمْوَالَهُمْ تَكَثُّرًا فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْرًا فَلْيَسْتَقِلَّ أَوْ لِيَسْتَكْثِرْ
“Barangsiapa meminta kepada manusia harta mereka untuk memperbanyak hartanya maka ia hanyalah sedang meminta bara api maka hendaknya ia mempersedikit ataukah memperbanyak.” (HR. Muslim: 1726, Ibnu Majah: 1828, Ahmad: 6866 dari hadits Abu Hurairah t)
Rukhsah (Keringanan) untuk Tasawwul
Ada bebarapa keadaan yang memperbolehkan seseorang untuk mengemis atau tasawwul. Dari Qabishah bin Mukhariq Al-Hilali t bahwa Rasulullah e bersabda:
يَا قَبِيصَةُ إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لَا تَحِلُّ إِلَّا لِأَحَدِ ثَلَاثَةٍ رَجُلٍ تَحَمَّلَ حَمَالَةً فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَهَا ثُمَّ يُمْسِكُ وَرَجُلٌ أَصَابَتْهُ جَائِحَةٌ اجْتَاحَتْ مَالَهُ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ وَرَجُلٌ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ حَتَّى يَقُومَ ثَلَاثَةٌ مِنْ ذَوِي الْحِجَا مِنْ قَوْمِهِ لَقَدْ أَصَابَتْ فُلَانًا فَاقَةٌ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ فَمَا سِوَاهُنَّ مِنْ الْمَسْأَلَةِ يَا قَبِيصَةُ سُحْتًا يَأْكُلُهَا صَاحِبُهَا سُحْتًا
“Wahai Qabishah! Sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal kecuali bagi salah satu dari 3 orang. Yaitu: (pertama) orang menanggung beban maka halal baginya untuk meminta-minta sampai ia mendapatkan hartanya kembali, (kedua) orang yang tertimpa kegagalan panen dalam keadaan hartanya sudah ia habiskan untuk modal menanam, maka halal baginya meminta-minta sampai ia mendapatkan harta penegak kehidupannya. (ketiga) orang yang tertimpa kefakiran sampai disaksikan oleh 3 orang cerdas dari kaumnya bahwa ia tertimpa kefakiran, maka halal baginya meminta-minta sampai ia mendapatkan penegak bagi kehidupannya. Adapun selain 3 orang di atas maka itu adalah harta haram yang dimakan oleh pelakunya, wahai Qabishah!” (HR. Muslim: 1730, An-Nasa’i: 2533, Abu Dawud: 1397).
Al-Allamah Ibnul Atsir berkata:
رجُل تَحَمَّل حَمَالة ] الحَمَالة بالفتح : ما يتَحَمَّله الإنسان عن غيره من دِيَة أو غَرامة مثل أن يقع حَرْب بين فَرِيقين تُسْفَك فيها الدّماء فيَدْخل بينَهُم رجُل يَتَحَمَّل دِيَاتِ القَتْلَى ليُصْلح ذات البَيْن . والتَّحَمُّل : أن يَحْمِلَهَا عنهم على نَفْسه
“Maksud (orang yang menanggung beban) adalah orang yang menanggung diyat (denda) atau hutang orang lain seperti ketika terjadi perang di antara 2 kelompok maka ia memasukkan dirinya sebagai penengah di antara keduanya dengan cara menanggung denda untuk orang yang terbunuh dalam rangka mendamaikan kedua kelompok. Sehingga ia tanggungkan atas dirinya.” (An-Nihayah fi Gharibil Atsar: 1/1051). Sehingga ia seperti gharim (orang yang menanggung banyak hutang).
Dari Anas bin Malik t bahwa Rasulullah bersabda:
إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لَا تَصْلُحُ إِلَّا لِثَلَاثَةٍ لِذِي فَقْرٍ مُدْقِعٍ أَوْ لِذِي غُرْمٍ مُفْظِعٍ أَوْ لِذِي دَمٍ مُوجِعٍ
“Sesungguhnya meminta-minta (tasawwul) tidaklah pantas kecuali bagi 3 orang: (pertama) orang yang mempunyai kefakiran yang sangat, (kedua) orang yang memiliki hutang yang mengerikan, (ketiga) orang yang memiliki tanggungan darah yang menyakitkan.” (HR. Abu Dawud: 1398, Ibnu Majah: 2189, At-Tirmidzi: 590 serta di-hasan-kan olehnya dan Ahmad: 11691. Al-Allamah Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini shahih lighairih. Shahih At-Targhib wat Tarhib hadits: 834).
Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr berkata:
الدم الموجع الحمالة في دم الخطأ والفقر المدقع الذي أفضى بصاحبه إلى الدقعاء وهي التراب كأنه ألصق ظهره بالأرض من الفقر وهو مثل قول الله عز وجل: {أَوْ مِسْكِيناً ذَا مَتْرَبَةٍ}
“Maksud (darah yang menyakitkan) adalah orang yang menanggung denda karena kekeliruannya sehingga menyebabkan jiwa terbunuh. (kefakiran yang sangat) adalahkefakiran yang menyebabkan orangnya menempel ke tanah. Seolah-olah ia menempelkan punggungnya ke tanah karena kefakiran. Ini menyerupai firman Allah: “Atau orang miskin yang berdebu.” (QS. Al-Balad: 16).” (At-Tamhid lima fil Muwaththa’ minal Ma’ani wal Asanid: 18/329).
Sehingga orang-orang yang disebutkan dalam hadits di atas diperbolehkan baginya untuk melakukan tasawwul (mengemis) sampai ia mendapatkan kecukupan hidupnya.
Menggalang Dana bukan Tasawwul
Penggalangan dana tidak bisa dimasukkan ke dalam tasawwul (mengemis). Ini  karena isinya adalah kegiatan meminta harta shadaqah atau infaq bukan untuk kepentingan pribadi akan tetapi untuk kepentingan kaum muslimin seperti fakir miskin. Sehingga ia termasuk kegiatan At-Tahridl dan Asy-Syafaat.
Jabir bin Abdillah t berkata:
قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْفِطْرِ فَصَلَّى فَبَدَأَ بِالصَّلَاةِ ثُمَّ خَطَبَ فَلَمَّا فَرَغَ نَزَلَ فَأَتَى النِّسَاءَ فَذَكَّرَهُنَّ وَهُوَ يَتَوَكَّأُ عَلَى يَدِ بِلَالٍ وَبِلَالٌ بَاسِطٌ ثَوْبَهُ يُلْقِي فِيهِ النِّسَاءُ الصَّدَقَةَ
“Rasulullah e berdiri pada hari Idul Fitri. Maka beliau memulai dengan shalat kemudian berkhutbah. Setelah selesai khutbah beliau turun dan mendatangi kaum wanita. Kemudian beliau mengingatkan mereka dalam keadaan beliau bersendar pada tangan Bilal. Bilal membentangkan bajunya (untuk mengumpulkan harta shadaqah) sehingga kaum wanita melemparkan shadaqah ke baju Bilal.” (HR. Al-Bukhari: 925, Muslim: 1466, An-Nasa’i: 1557).
Dalam riwayat lain beliau berkata:
يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي أُرِيتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ
“Wahai kaum wanita! Bershadaqahlah kalian! Karena aku melihat kalian sebagai kebanyakan penduduk neraka.” (HR. Al-Bukhari: 293, Muslim: 114, At-Tirmidzi: 575, Ibnu Majah: 3993).
Al-Imam Ibnu Bathal berkata:
وفيه : الشفاعة للمساكين وغيرهم أن يسأل لهم . وفيه : حجة على من كره السؤال لغيره
“Di dalam hadits ini ada penjelasan bahwa Asy-Syafaat untuk kaum miskin dan lainnya adalah dengan memintakan (shadaqah atau infaq, pen) untuk mereka (bukan untuk kepentingan pribadi, pen). Di dalam hadits ini juga terdapat hujjah (bantahan) atas orang yang membenci untuk memintakan (shadaqah atau infaq, pen) untuk orang lain.”(Syarh Al-Bukhari li Ibni Bathal: 1/419).
Al-Hafizh Ibnu Hajar juga berkata:
وفيه جواز طلب الصدقة من الأغنياء للمحتاجين ولو كان الطالب غير محتاج
“Di dalam hadits ini terdapat pelajaran tentang bolehnya meminta shadaqah dari orang-orang kaya untuk diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Meskipun orang yang meminta shadaqah tidak membutuhkan shadaqah tersebut.” (Fathul Bari: 2/469).
Hadits di atas merupakan contoh kegiatan penggalangan dana yang terdiri atas kegiatan At-Tahridl dan Asy-Syafaat, sehingga tidak bisa dimasukkan ke dalam kategori tasawwul.
Abu Musa Al-Asy’ari t berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا جَاءَهُ السَّائِلُ أَوْ طُلِبَتْ إِلَيْهِ حَاجَةٌ قَالَ اشْفَعُوا تُؤْجَرُوا وَيَقْضِي اللَّهُ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا شَاءَ
“Adalah Rasulullah e jika didatangi oleh seorang yang meminta (sesuatu) atau beliau dimintai sesuatu yang dibutuhkan maka beliau bersabda: “Berikan syafaat (bantuan) maka kalian akan mendapatkan pahala. Allah akan memutuskan melalui lisan Nabi-Nya e apa yang dikehendaki.” (HR. Al-Bukhari: 1342, Muslim: 4761, An-Nasa’i: 2510, At-Tirmidzi: 2596, Abu Dawud: 4466).
Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr berkata:
قد قال صلى الله عليه وسلم:” اشفعوا تؤجروا وفيه إطلاق السؤال لغيره والله أعلم
“Rasulullah e bersabda: “Berikan syafaat (bantuan) maka kalian akan mendapatkan pahala.” Di dalam hadits ini ada pemutlakan meminta (shadaqah dan lain-lain, pen) untuk kepentingan orang lain. Wallahu a’lam.” (At-Tamhid lima fil Muwaththa’ minal Ma’ani wal Asanid: 4/122).
Al-Imam Ibnu Bathal berkata:
الشفاعة فى الصدقة وسائر أفعال البر، مرغب فيها، مندوب إليها، ألا ترى قوله ( صلى الله عليه وسلم ) : ( اشفعوا تؤجروا )، فندب أمته إلى السعى فى حوائج الناس، وشرط الأجر على ذلك،
“Memberikan syafaat (bantuan) dalam perkara shadaqah (agar terkumpul dan tersalurkan, pen) dan perkara kebaikan lainnya adalah disukai dan dianjurkan. Apakah kamu tidak melihat sabda beliau e (“Berikan syafaat (bantuan) maka kalian akan mendapatkan pahala.”). Maka beliau menganjurkan umat beliau untuk berusaha memenuhi kebutuhan manusia dan menjanjikan pahala atas perbuatan ini.” (Syarh Al-Bukhari li Ibni Bathal : 3/434).
Memohon Bantuan
Memohon bantuan untuk kepentingan kaum muslimin adalah diperbolehkan dan tidak termasuk tasawwul.
Allah U berfirman:
قَالَ مَا مَكَّنِّي فِيهِ رَبِّي خَيْرٌ فَأَعِينُونِي بِقُوَّةٍ أَجْعَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ رَدْمًا
“Dzulkarnain berkata: “Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka bantulah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka.” (QS. Al-Kahfi: 95).
Al-Imam Al-Qurthubi berkata:
قال لهم ذو القرنين ما بسطه الله تعالى لي من القدرة والملك خير من خرجكم وأموالكم ولكن أعينوني بقوة الأبدان، أي برجال وعمل منكم بالأبدان، والآلة التي أبني بها الردم وهو السد
“Raja Dzulqarnain berkata kepada mereka: “Kerajaan dan kekuasaan yang diberikan oleh Allah kepadaku adalah lebih baik daripada harta kalian. Tetapi bantulah aku dengan kekuatan badan, yaitu dengan laki-laki dari kalian dan tenaga mereka, dan juga dengan alat-alat yang dapat aku gunakan untuk membangun bendungan.” (Tafsir Al-Qurthubi: 11/60).
Al-Imam Abdurrahman As-Sa’diy berkata:
فقال لهم: {مَا مَكَّنِّي فِيهِ رَبِّي خَيْرٌ} أي: مما تبذلون لي وتعطوني، وإنما أطلب منكم أن تعينوني بقوة منكم بأيديكم
“Dzulqarnain berkata kepada mereka: “”Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik daripada perkara yang kalian serahkan dan kalian berikan kepadaku. Aku hanya meminta dari kalian agar kalian membantuku dengan kekuatan dari kalian dengan tenaga kalian.” (Taisir Karimir Rahman: 486).
Perbuatan Raja Dzulqarnain di atas adalah tidak termasuk tasawwul (mengemis) karena bukan untuk kepentingan pribadi tetapi untuk kepentingan kaum muslimin.
Rasulullah e juga pernah meminta bantuan seorang tukang kayu untuk membuatkan beliau mimbar. Sahl bin Sa’d As-Sa’idi t berkata:
بَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى امْرَأَةٍ مُرِي غُلَامَكِ النَّجَّارَ يَعْمَلْ لِي أَعْوَادًا أَجْلِسُ عَلَيْهِنَّ
“Rasulullah e pernah mengutus kepada seorang wanita: “Perintahkan anakmu yang tukang kayu itu untuk membuatkan untukku sebuah mimbar sehingga aku bisa duduk di atasnya!” (HR. Al-Bukhari: 429, An-Nasa’i: 731 dan Ahmad: 21801).
Al-Imam Al-Bukhari berkata:
بَاب الِاسْتِعَانَةِ بِالنَّجَّارِ وَالصُّنَّاعِ فِي أَعْوَادِ الْمِنْبَرِ وَالْمَسْجِدِ
“Bab: Meminta bantuan kepada tukang kayu dan ahli pertukangan lainnya untuk membuat kayu-kayu mimbar dan masjid.” (Shahihul Bukhari: 2/235).
Al-Imam Ibnu Bathal berkata:
فيه: الاستعانة بأهل الصناعات والمقدرة فى كل شىء يشمل المسلمين نفعه، وأن المبادر إلى ذلك مشكور له فعله.
“Di dalam hadits ini terdapat pelajaran tentang bolehnya meminta bantuan kepada ahli pertukangan dan ahli kekayaan untuk segala hal yang manfaatnya meliputi kaum muslimin. Dan orang-orang yang bersegera melakukannya adalah disyukuri usahanya.” (Syarh Al-Bukhari li Ibni Bathal: 2/100).
Sehingga meminta bantuan dan sumbangan baik berupa tenaga maupun materi untuk membangun masjid dan madrasah adalah diperbolehkan dan tidak termasuk tasawwul (mengemis).
Demikian pula apa yang dilakukan oleh Abu Bakar t ketika dibaiat menjadi khalifah setelah wafatnya Rasulullah e. Beliau berpidato:
أما بعد أيها الناس فإني قد وليت عليكم ولست بخيركم، فإن أحسنت فأعينوني، وإن أسأت فقوموني.
“Amma ba’du. Wahai manusia! Sesungguhnya aku menjadi pemimpin kalian dan aku bukanlah orang yang terbaik di atara kalian. Maka jika aku benar maka bantulah aku! Dan jika aku berbuat salah maka luruskanlah aku!” (Al-Bidayah wan Nihayah: 5/269).
Sehingga kita diperbolehkan mengatakan: “Bantulah aku membangun masjid ini atau madrasah ini dan sebagainya!” atau meminta sumbangan kepada kaum muslimin yang mampu untuk membangun masjid, madrasah dan  sebagainya.
Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts wal Ifta’ Saudi Arabiyyah pernah ditanya:
س: هل يجوز للمسلم أن يطلب المساعدة لبناء مسجد أو مدرسة من المسلم، لماذا؟
ج: يجوز ذلك؛ لأن هذا من التعاون على البر والتقوى، قال تعالى: { وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ }
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
عضو … عضو … نائب رئيس اللجنة … الرئيس
عبد الله بن قعود … عبد الله بن غديان … عبد الرزاق عفيفي … عبد العزيز بن عبد الله بن باز
Tanya: “Bolehkah meminta bantuan dari seorang muslim untuk membangun masjid atau madrasah?”
Jawab: “Perkara tersebut diperbolehkan, karena termasuk dalam tolong-menolong di atas kebaikan dan taqwa. Allah U berfirman: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al-Maidah: 2).
Wabillahit taufiq wa shallallahu ala Nabiyyina Muhammad wa alihi washahbihi wasallam.
Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhutsil Ilmiyyah wal Ifta’
Abdul Aziz bin Baaz (ketua), Abdur Razzaq Afifi (wk ketua), Abdullah Ghudayyan (anggota) Abdullah Qu’ud (anggota) (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah Al-Majmu’atul Ula nomer: 6192(6/242)).
Seorang Tamu yang Meminta Haknya
Jika seseorang bertamu di rumah orang lain maka ia boleh meminta haknya sebagai tamu untuk mendapatkan jamuan dari tuan rumah. Ini tidak termasuk tasawwul yang tercela.
Allah U berfirman:
حَتَّى إِذَا أَتَيَا أَهْلَ قَرْيَةٍ اسْتَطْعَمَا أَهْلَهَا فَأَبَوْا أَنْ يُضَيِّفُوهُمَا
“Maka keduanya (Musa dan Khidlir) berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka,” (QS. Al-Kahfi: 77).
Al-Imam Al-Qurthubi berkata:
ويظهر من ذلك أن الضيافة كانت عليهم واجبة، وأن الخضر وموسى إنما سألا ما وجب لهما من الضيافة، وهذا هو الأليق بحال الأنبياء، ومنصب الفضلاء والأولياء
“Dan tampaklah dari ayat ini bahwa menjamu tamu adalah kewajiban mereka (penduduk negeri itu). Dan bahwa Khidlir dan Musa hanyalah meminta hak mereka sebagai tamu yang wajib dijamu oleh tuan rumah. Inilah yang pantas dengan keadaan para nabi dan kedudukan orang-orang yang memiliki keutamaan dan para wali.” (Tafsir Al-Qurthubi: 11/25).
Al-Imam Ibnul A’rabi Al-Maliki berkata:
وَهَذَا السُّؤَالُ مِنْ تِلْكَ الْأَقْسَامِ هُوَ سُؤَالُ الضِّيَافَةِ ، وَهِيَ فَرْضٌ أَوْ سُنَّةٌ كَمَا بَيَّنَّاهُ هُنَالِكَ ، وَسُؤَالُهَا جَائِزٌ ، فَقَدْ تَقَدَّمَ فِي حَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّهُمْ نَزَلُوا بِقَوْمٍ فَاسْتَضَافُوهُمْ ، فَأَبَوْا أَنْ يُضَيِّفُوهُمْ ، فَلُدِغَ سَيِّدُهُمْ ، فَسَأَلُوهُمْ : هَلْ مِنْ رَاقٍ ، فَجَعَلُوهُمْ عَلَى قَطِيعٍ مِنْ الْغَنَمِ .
“Permintaan ini (Khidlir dan Musa) dari macam-macam permintaan yang kami bahas adalah permintaan untuk mendapat jamuan. Menjamu tamu adalah wajib atau sunnah sebagaimana yang telah kami jelaskan di sana. Dan meminta jamuan adalah diperbolehkan. Dan telah dibahas dari hadits Abu Sa’id Al-Khudri bahwa mereka pernah singgah  pada sebuah kaum kemudian meminta jamuan dari mereka. Kaum itu tidak mau menjamu mereka. Kemudian pemimpinnya terkena sengat dan mereka menanyakan orang yang mampu meruqyah. Para sahabat kemudian mempersyaratkan beberapa ekor kambing sebagai upah.” (Ahkamul Quran li Ibnil A’rabi: 5/334).
Abu Sa’id Al-Khudri t berkata:
انْطَلَقَ نَفَرٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفْرَةٍ سَافَرُوهَا حَتَّى نَزَلُوا عَلَى حَيٍّ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ فَاسْتَضَافُوهُمْ فَأَبَوْا أَنْ يُضَيِّفُوهُمْ
“Sebagian Sahabat Nabi e berangkat dalam suatu perjalanan sampai mereka singgah pada suatu kaum dari orang-orang Arab. Kemudian para sahabat meminta jamuan dari mereka dan mereka tidak mau menjamu…dst.” (HR. Al-Bukhari: 2115, Muslim: 4080, Abu Dawud: 2965).
Meminta Beasiswa
Pemerintah memberikan beasiswa bagi pelajar yang berprestasi agar dapat melanjutkan proses belajar mereka. Maka jika seorang pelajar berprestasi mengajukan beasiswa kepada pemerintah maka ini termasuk tasawwul yang diperbolehkan.
Dari Samurah bin Jundab t bahwa Rasulullah e bersabda:
إِنَّ الْمَسَائِلَ كُدُوحٌ يَكْدَحُ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ فَمَنْ شَاءَ كَدَحَ وَجْهَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَ إِلَّا أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ ذَا سُلْطَانٍ أَوْ شَيْئًا لَا يَجِدُ مِنْهُ بُدًّا
“Sesungguhnya meminta-minta adalah cabikan yang mana seseorang mencabik-cabik wajahnya dengan meminta-minta. Maka barangsiapa yang mau, maka silakan mencabik-cabik wajahnya dan barangsiapa yang mau maka silakan ia tinggalkan. Kecuali seseorang meminta kepada pemilik kekuasaan (pemerintah) atau ia meminta sesuatu yang harus dipenuhi.” (HR. An-Nasa’i: 2552, Abu Dawud: 1396, Ahmad: 19353 dan di-shahih-kan oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Shahihul Jami’: 6695).
Al-Allamah Muhammad Abdur Rahman Al-Mubarakfuri berkata:
)إلا أن يسأل الرجل ذا سلطان( أي ذا حكم وسلطنة بيده بيت المال فيسأل حقه فيعطيه منه إن كان مستحقا
“Sabda beliau (Kecuali seseorang meminta kepada pemilik kekuasaan) maksudnya adalah seseorang yang memiliki wewenang hukum dan kekuasaan yang memegang Baitul Mal maka ia meminta haknya dan ia diberikan haknya dari Baitul Mal kalau ia termasuk orang yang berhak.” (Tuhfatul Ahwadzi: 3/290).
Al-Allamah Abuth Thayyib Al-Azhim Abadi berkata:
وفيه دليل على جواز سؤال السلطان من الزكاة أو الخمس أو بيت المال أو نحو ذلك فيخص به عموم أدلة تحريم السؤال
“Di dalam hadits ini terdapat dalil diperbolehkannya meminta penguasa dari harta zakat atau khumus atau Baitul mal atau yang lainnya. Maka hadits ini mengecualikan keumuman dalil-dalil yang melarang meminta-minta.” (Aunul Ma’bud: 5/34).
Sekarang timbul pertanyaan: Bagaimana jika pemerintah mendapatkan pemasukan dari pajak dan selainnya seperti bunga bank dan sebagainya? Apakah pemberiannya boleh kita terima? Seperti gaji PNS dan lain-lain?
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata:
وكان بعضهم يقول يحرم قبول العطية من السلطان وبعضهم يقول يكره وهو محمول على ما إذا كانت العطية من السلطان الجائر والكراهة محمولة على الورع وهو المشهور من تصرف السلف والله أعلم والتحقيق في المسألة أن من علم كون ماله حلالا فلا ترد عطيته ومن علم كون ماله حراما فتحرم عطيته ومن شك فيه فالاحتياط رده وهو الورع ومن اباحه أخذ بالأصل قال بن المنذر واحتج من رخص فيه بأن الله تعالى قال في اليهود سماعون للكذب أكالون للسحت وقد رهن الشارع درعه عند يهودي مع علمه بذلك وكذلك أخذ الجزية منهم مع العلم بأن أكثر أموالهم من ثمن الخمر والخنزير والمعاملات الفاسدة
“Sebagian ulama menyatakan haramnya pemberian dari pemerintah. Sebagian yang lainnya menyatakan makruhnya. Keharaman dipahami jika itu merupakan pemberian dari penguasa yang zhalim. Kemakruhan dipahami atas sikap wara’ dan inilah yang masyhur dari sikap As-Salaf. Wallahu a’lam. Tahqiq dari masalah ini adalah bahwa pemerintah yang diketahui keadaan hartanya yang halal maka pemberiannya jangan ditolak. Dan pemerintah yang diketahui keadaan hartanya yang haram maka pemberiannya haram diterima. Dan pemerintah yang diragukan hartanya maka keadaan hati-hati adalah menolaknya dan itulah sikap wara’.
Para ulama yang memperbolehkan menerima pemberian penguasa berpegang pada hukum asal (yaitu hadits di atas, pen). Ibnul Munzhir menyatakan: “Ulama yang memberikan rukhsah untuk meminta dan menerima pemberian penguasa berdalil dengan firman Allah bahwa orang yahudi itu banyak mendengar kedustaan dan banyak memakan harta haram.[1] Tetapi Rasulullah e sendiri menggadaikan baju besinya kepada orang yahudi (untuk mendapatkan gandum)[2] padahal beliau mengetahui praktik haram si yahudi tersebut. Demikian pula memungut Al-Jizyah dari mereka[3] padahal diketahui bahwa kebanyakan harta mereka adalah dari hasil penjualan khamer, babi dan muamalah yang rusak.” (Fathul Bari: 3/338).
Sehingga hukum asal menerima beasiswa dan gaji bagi PNS adalah halal.
Penutup
Sehingga seorang yang berilmu harus bisa membedakan antara mana yang disebut tasawwul dan mana yang bukan tasawwul. Mana tasawwul yang diperbolehkan dan mana tasawwul yang dilarang. Semoga tulisan ini bermanfaat. Amien. Wallahu a’lam.
[1] Allah berfirman:
سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُونَ لِلسُّحْتِ
“Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram.” (QS. Al-Maidah: 42).
[2] Ummul Mukminin Aisyah t berkata:
تُوُفِّيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَدِرْعُهُ مَرْهُونَةٌ عِنْدَ يَهُودِيٍّ بِثَلَاثِينَ
“Rasulullah r wafat dalam keadaan baju perangnya tergadaikan pada seorang Yahudi dengan imbalan 30 sha’ gandum.” (HR. Al-Bukhari: 4107).
[3] Allah berfirman:
قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ
“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (QS. At-Taubah: 29).

Tidak ada komentar: