Cari Di Blog Ini

Sabtu, 10 Maret 2012

Al-Quran Wahyu Tuhan atau Karya Manusia?

Sejak dulu sampai sekarang para penentang Islam tidak pernah menyerah mengerahkan segala upaya mereka untuk meragukan keabsahan al-Quran dan kebenarannya sebagai wahyu Tuhan. Upaya ini sudah di mulai sejak kaum pagan Mekkah yang menentang al-Quran habis-habisan dengan mengatakan bahwa ia hanyalah "kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad dan dia dibantu oleh kaum yang lain." [25:4] Menuduh bahwa al-Quran tidak lebih dari, "Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang," [25:5]

Tetapi sayang nya, sikap kaum pagan Mekkah terhadap al-Quran ini ternyata diikuti oleh sejumlah orientalis yang sangat tendensius terhadap Islam yang ingin mengatakan bahwa al-Quran bukanlah wahyu Allah, melainkan karya Muhammad saw. Mereka kerap menyitir beberapa pernyataan kaum pagan dahulu yang sebenarnya telah dijawab oleh al-Quran sendiri.

Merupakan sebuah fakta bahwa Muhammad saw adalah seorang yang ummiy yang tak pandai membaca dan menulis. Karena itulah ia meminta beberapa sahabatnya untuk mencatat setiap wahyu al-Quran yang diturunkan kepadanya. Jika demikian bagaimana mungkin seorang yang ummiy dapat mempelajari kitab-kitab suci agama lain. Pernyataan seperti itu merupakan tuduhan yang tidak didukung fakta dan argumentasi ilmiah.

Rasullulah menyampaikan dakwah di Mekkah selama kurang lebih 13 tahun. Dalam waktu tersebut, tidak ditemukan bukti sejarah bahwa Muhammad saw pernah melakukan kontak dengan orang-orang Yahudi.
Peran seorang pendeta Adapun pertemuannya dengan pendeta Kristen Bahira, mereka mencoba mendramatisir kisah pertemuan tersebut. Pertemuan itu terjadi di sela-sela perjalanan Muhammad saw ke negri Syam dalam rangka menemani kafilah dagang pamannya, Abu Thalib. Saat itu, usia Nabi sekitar 9 - 12 tahun. Apakah masuk akal seorang anak kecil dengan usia seperti itu di sela-sela pertemuan singkat yang berlangsung dalam hitungan menit mampu memahami ajaran sebuah agama secara sempurna? Adakah alasan mengapa Bahira menjatuhkan pilihan kepada Muhammad kecil ini untuk menerima ajaran Kristen, sementara ada banyak orang yang ikut dalam kafilah dagang Abu Thalib? Mengapa Muhammad harus menunggu 30 tahun lamanya setelah pertemuan tersebut kemudian memproklamirkan risalah islam yang diterimanya pada usia 40 tahun?

Sungguh kisah pertemuan Bahira dan Muhammad saw yang didramatisir tersebut sama sekali tidak masuk akal dan a-historis. Sehingga tidak aneh jika ada orientalis sendiri yang meragukan keabsahan peran Bahira yang dianggap mengajarkan isi kitab-kitab terdahulu kepada Muhammad.

Dalam kata-kata orientalis Huart, "Berbagai sumber-sumber tertulis Arab klasik yang ditemukan, diterbitkan dan dikaji yang menyebutkan tentang peran seorang pendeta asal Suriah (Syam), menunjukkan bahwa kisah tersebut tidak lebih dari potongan-potongan dongeng dan khayalan belaka." (M Abdullah Diraz, disertasinya dalam bahasa Perancis di Universitas Paris, 1947)
Fakta ilmiah

Dalam kitab suci al-Quran terkandung fakta-fakta ilmiah yang baru bisa dibuktikan kebenarannya oleh sains modern. (Maurice Bucaille, Kairo, 1978) Beberapa contoh a;-Quran telah mengisyaratkan tentang fase-fase perkembangan janin di perut ibu, atau fakta-fakta ilmiah menakjubkan lainnya mengenai bumi, matahari, bintang, angin, hujan dan sebagainya. Lalu dari mana Muhammad mendapatkan semua itu?

Tak seorang pun mengatakan bahwa Muhammad saw menyadurnya dari sumber-sumber Yahudi dan Kristen yang memang tidak menyinggung fakta-fakta ilmiah seperti halnya al-Quran atau mungkinkah Muhammad yang ummiy mendapatkan sendiri temuan-temuan ilmiah tersebut padahal beliau tidak mendapatkan pendidikan sedikit pun? Sudah amat jelas, bahwa al-Quran bukalah karya manusia.

Al-Quran saduran Kitab-Kitab Suci sebelumnya?

Jika benar al-Quran merupakan saduran kitab-kitab suci sebelumnya, akankah orang-orang yang hidup semasa Muhammad saw membiarkan hal itu? Dakwaan dan hujatan semacam ini merupakan sebentuk generalisasi yang tidak memiliki dasar. Di dalam al-Quran terdapat banyak aturan-aturan hukum dan ajaran-ajaran yang tidak ditemui dalam Kitab-kitab suci sebelumnya. Kitab-kitab suci sebelum al-Quran juga tidak menyebutkan rincian hal ihwal umat-umat terdahulu sebagaimana terdapat dalam al-Quran.

Demikian pula prediksi al-Quran tentang hal-hal yang akan terjadi (gaib) yang baru terjadi selang beberapa waktu kemudian. Sebagai contoh dalam hal ini adalah kisah peperangan antara Romawi dan Persia yang sebelumnya diberitakan oleh al-Quran, tidak diketahui oleh Muhammad saw dan kaumnya, juga oleh penganut agama-agama sebelumnya. (al-Quran surat ar-Rum : 1- 5, tafsir al-Quran oleh para ahli tafsir)

al-Quran adalah kitab suci yang seluruh ayatnya memiliki konsistensi dan keselarasan pada susunan kata, gaya bahasa, dan ajaran-ajaran yang dikandungnya. Jika benar al-Quran merupakan karya saduran yang bersumber dari kitab suci sebelumnya, maka keragaman sumber seperti itu meniscayakan terjadinya kontradiksi, inkonsistensi dan ketidakselarasan.

Ada pula yang mencurigai bahwa budaya Arab Jahiliyah sebagai salah satu sumber al-Quran, faktanya al-Quran justru menolak berbagai sistem keyakinan jahiliyah yang batil dan adat istiadat serta tradisinya yang buruk, dan menggantinya dengan akidah, adat yang baik juga tradisi yang santun.
Tidak ada yang baru dalam al-Quran?

Al-Quran, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru

Sebagai tambahan atas tuduhan bahwa tidak ada yang baru di dalam al-Quran, faktanya al-Quran memuat informasi-informasi yang tidak terdapat dalam kitab-kita suci sebelumnya. Al-Quran memaparkan secara terperinci tentang kisah nabi Zakaria as, dan kelahiran Maryam yang berada di bawah asuhan Zakaria as. [3:35-37] Informasi mengenai Maryan sendiri banyak ditemui diberbagai tempat dan menjadi salah satu nama surah ke 19 dalam al-Quran. Suatu paparan informasi yang tidak ditemukan, bahkan dalam Perjanjian Baru sekali pun. Lalu dari manakah Muhammad saw mendapatkan informasi seperti itu kalau bukan dari Dia Yang maha Tahu, Allah swt.

Di dalam perjanjian Lama, Kitab Keluarab, disebutkan bahwa yang mengangkat Musa as sebagai anak adalah putri Firaun (Keluaran 2 : 5-7 atau Perjanjian Baru, Kisah Para Rasul 7 : 21). Ini berbeda dengan informasi di dalam al-Quran yang menyatakan bahwa istri Firaun lah yang sebenarnya mengadopsi Musa as., bukan putrinya. [28:9] Demikian pula dalam kitab yang sama disebutkan bahwa pembuat patung anak sapi yng disembah baniisrael adalah Harun as (keluaran 32:3,4 dan 35), berbeda dengan paradoksal yang tertera di Bible justru Harun adalah orang yang sangat mengecam penyembahaan patung itu. [20:85-88]

Jika benar al-Quran telah menukil dan menyadur apa yang terdapat di dalam Injil, alasan apa yang mebuatnya tidak menyadur konsep Trinitas yang merupakan prinsip paling fundamental dalam ajaran Kristen? Mengapa al-Quran sama sekali tidak mengambil prinsip-prinsip akidah Kristen seperti penyaliban, konsep keselamatan, dosa warisan, dan ketuhanan Almasih?
Nabi dalam pandangan Islam

Dalam pandangan al-Quran, para nabi utusan Allah adalah tipe ideal dari moralitas yang harus diteladani. Kedudukan mereka yang sangat luhur dalam pandangan al-Quran justru bertolak belakang dengan apa yang tersurat dalam Bible. Bible kerap mengaitkan berbagai perbuatan nista Nabi Luth as dengan kedua putrinya di dalam Bible (Kitab Kejadian 9 :20-21), Nabi Nuh (kejadian 9:20-21), Nabi Daud (2 Samuel 11:2-5 dan 2 Samuel 6 : 20), lalu bandingkan dengan apa yang terdapat di dalam al-Quran mengenai keteladanan dan kemuliaan Nabi Luth as pada surah al-Araf : 80 dan Al-Anbiya: 74.

Proses Kodifikasi dan Masalah Otentisitas Al-Quran


Sejarah mencatat adanya para penulis dari kalangan yang diangkat oleh Nabi sebagai pencatat ayat-ayat al-Quran. Catatan yang mereka tulis berdasarkan bacaan rasullulah saw, yang didiktekan langsung setiap kali wahyu turun. Catatan ini didokumentasikan pada alat-alat tulis yang tersedia pada saat itu, seperti kertas, kayu, potongan kulit, lempengan batu atau tulang. Para penulis wahyu ini sebagaimana yang diinformasikan oleh literatur-literatur keislaman berjumlah 29 orang. Diantara mereka adalah empat khalifah sesudah rasullulah saw. Beberapa penulis tersebut yaitu, Abu Bakar, Umar bin Khatab, Ustman bin Affan, Alin bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Said bin Al-Ash, Amru bin AL-Ash, Ubai bin Ka'b, dan Zaid bin Tsabit.

Selain pencatatan adalah ukurasi hafalan kaum Muslimin yang terus mentradisi sampai saat ini. Pada Masa Rasullulah saw, para penghafal al-Quran mencapai ratusan sahabat yang memang sangat concern pada bacaan al-Quran dan akurasi hafalannya.

Rasullulah saw melakukan pembacaan ulang al-Quran satu kali setiap tahun di bulan Ramadhan yang langsung disimak oleh pembawa wahyu Jibril as. Bahkan khusus pada tahun terakhir sebelum wafat, Jibril as melakukan pengecekan bacaan al-Quran Nabi sebanyak dua kali. Dengan demikian, para penghafal al-Quran itu telah mengahafalnya dengan sempurna sebelum Rasullulah saw wafat. Demikian para penulis al-Quran mencatat seluruh kandungan al-Quran dan meletakkan ayat demi ayat sesuai dengan arahan dan intruksi langsung Rasullulah saw.
Peristiwa Yamamah, Musailamah al-Kadzdzab

Setahun setelah wafatnya Rasullulah saw, sebanyak 70 orang penghafal al-Quran terbunuh dalam peristiwa Yamamah. Mempertimbangkan hal ini, Khalifah Abu Bakar ra, atas saran dari Umar bin Khatab menugaskan salah satu penulis al-Quran, Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan catatan-catatan al-Quran yang berserakan kedalam satu kodifikasi yang akan dijadikan rujukan. Proses Kodifikasi ini dilakukan berdasarkan satu prinsip, yaitu bahwa setiap catatan wahyu yang akan dimasukkan ke dalam kodifikasi harus mendapatkan dua orang saksi yang mengatakan, bahwa catatan tersebut benar-benar telah didiktekan langsung oleh Rasullulah saw. Tentu saja para penghafal al-Quran dari kalangan sahabat dilibatkan dalam melakukan tugas kodifikasi ini.

Zaid bin Tsabit menyerahkan hasil kodifikasi lengkap al-Quran kepada Abu Bakar, sebelum wafat kodifikasi tersebut diserahkan kepada Umar bin Khatab yang kemudian sebelum beliau wafat menyerahkannya kepada putrinya yang juga istri Rasullulah saw, Hafshah binti Umar ra.
Ustman bin Affan

Pada Masa Ustman bin Affan, dibentuklah komite kodifikasi al-Quran yang terdiri dari empat orang, salah satunya adalah Zaid bin Tsabit. Mereka bertugas untuk menyalin sebanyak lima mushhaf al-Quran dan kemudian dikirim ke Mekkah, Madinah, Basrah, Kufah fan Damaskus. Komite ini melakukan tugas penyalinan berdasarkan kodifikasi yang berada di tangan Hafshah binti Umar ra. Proses penyalinan tersebut tentu saja diawasi oleh para penghafal al-Quran saat itu. Salinan al-Quran hasil penulisan komite inilah yang beredar dan dipergunakan oleh umat Islam di seluruh dunia sejak dulu hingga saat ini. Oleh sebab itu tidak ada perbedaan dikalangan umat Islam menyangkut otentisitas al-Quran sejak 14 abad silam hingga sekarang.

Hal ini juga diperkuat oleh para orientalis Leblois, Muir dan Orientalis Jerman Rudi Paret dalam kata pengantar untuk terjemahan al-Quran. Ahli Ketimuran Rudi Paret mengatakan, "Kita tidak memiliki alasan yang dapat membuat kita yakin bahwa di sana ada ayat-ayat dalam al-Quran yang tidak datang dari Muhammad." (M.Abdullah Diraz, Rudi PAret, Der Koran, Stuttgart; Ubersetzubg, 1980, hal 5)

Demikianlah, tak ada yang menyebutkan bahwa ada salinan al-Quran yang berbeda dengan hasil salinan komite di masa Ustman bin Affan. Seandainya ada diantara para sahabat yang memiliki salinan yang berbeda, pastilah mereka akanmenunjukkan dan menentang hasil penyalinan yang dilakukan komite kodifikasi pada masa Ustman. Tetapi kita tidak pernah mendengar terjadinya hal itu sepanjang sejarah umat Islam.

Abdullah bin Mas'ud ra


Adapun tuduhan yang sengaja disebarkan menyangkut seorang sahabat Rasullulah saw, Abdullah bin Mas'ud ra yang disebut-sebut pernah menyatakan keraguannya atas surah al-Fatihah, al-Falaq, dan An-Nas sebagai bagian al-Quran, sama sekali merupakan tuduhan yang tidak memiliki dasar sama sekali.

Para Ulama Islam yang memiliki keilmuan yang teruji, seluruhnya membantah tuduhan tanpa bukti yang disematkan kepada Abdullah bin Mas'us ini. Fakhrudin ar-Razi, Abu Bakar Ibnul Arabi, an-Nawawi, Ibnu Hazm al-Andalusi, al-Baqillani dan ulama lain membantah tuduhan tersebut, dan tidak ada seorang pun yang dari umat Islam yang mempercayai pendapat tanpa dasar yang diberikan secara tidak benar terhadap sahabatnya Abdullah bin Mas'us ra itu. (Cairo : Dar al-Ma'arif, 1997, hal 97 dst)

"Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar." [2:111]

(sumber : Prof.Dr.Mahmoud Hamdi Zaqzouq, Guru Besar Universitas al-Azhar Mesir, Meraih gelar Ph.D dari Universitas Munchen Jerman, pada 1968, Wakil Rektor Universitas Al-Azhar pada tahun 1995, dan dari tahun 1996 menduduki jabatan Menteri Wakaf Republik Arab Mesir)

Tidak ada komentar: