Waspadai Kaum 'Sarungan' yang Sinis Sesama Muslim Tapi Manis kepada Kafirin
“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya” (Qs Al-Mujadilah 22).
VOA-ISLAM.COM – Seorang bapak sepuh pernah bercerita, pada masa pra-kemerdekaan ketika sejumlah umat Islam shalat di masjid mengenakan celana panjang, oleh komunitas sarungan dicap kafir. Bagi mereka, celana panjang diidentikkan dengan busana penjajah, sedangkan busana shalat yang afdhal adalah mengenakan sarung.
Sarung adalah kain panjang yang dijahit pada kedua tepinya sehingga membentuk silinder. Konon, sarung berasal dari Yaman, dan masuk ke kawasan Nusantara diduga bersamaan dengan masuknya Islam.
Menutup aurat dengan sarung atau celana panjang, sesungguhnya bukan hal prinsip yang sampai harus disikapi dengan mengafirkan orang lain. Sarung sendiri di kalangan bangsa Mesir atau Turki adalah perlengkapan tidur, yang tidak layak dibawa ke tempat peribadatan atau pergaulan sehari-hari.
Kalau pada akhirnya sarung menjadi salah satu cara menutup aurat, perlengkapan beribadah dan keperluan lainnya, tetap saja tidak ada alasan untuk mengafirkan orang lain yang tidak mengenakan sarung saat beribadah (shalat).
Rupanya watak sinis komunitas sarungan ini, tetap eksis hingga kini. Kalau untuk urusan sarung yang tidak prinsipil saja mereka tega mengafirkan orang lain yang tidak sama kebiasaannya dengan mereka, apalagi untuk hal-hal yang serius.